[REVIEW] METAFORA PADMA

BLURB

"Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas"






Judul: Metafora Padma

Penulis: Bernard Batubara


Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-3297-0

Tebal: 157

MyRate: 4/5

#31HariBerbagiBacaan






 *


"Bukankah manusia yang baik adalah manusia yang belajar dari sejarah, terutama yang paling penuh luka?" hal. 16



Pertama kali membaca buku karya Bernard Batubara yang belakangan ini sering kulihat di media sosial khususnya Twitter membuatku sangat penasaran, seperti apa buku ini yang katanya memiliki makna filosofis dan enak dibaca. Tak perlu waktu lama mendapatkan buku ini, alhamdulillah berkat teman yang sudah berbaik hati, akhirnya buku ini sampai juga di tanganku.

Membaca kumcer (kumpulan cerita) tentu memiliki kesan tersendiri. Selain karena ceritanya yang pendek, kumcer pas banget mengisi waktu-waktu senggang khusunya bagi readers yang nggak suka baca novel terlalu panjang atau memiliki jadwal yang padat.

Awal membaca buku ini, aku tertarik dengan covernya. Setangkai bunga berwarna merah dengan ilustrasi yang sangat unik. Awalnya, aku mengira ini bunga mawar. Ternyata bukan.

Buku ini berisi 14 kumpulan cerita. Kesemuanya, meninggalkan kesan yang setiap selesai membaca satu kisah, aku berhenti sejenak. Butuh waktu beberapa saat untuk memahami pesan yang ada dalam buku ini.

Jujur saja, aku terpukau dengan gaya penulis menuturkan setiap kisah di buku ini. Kalaupun saat mengalami kesulitan saat membacanya, bukan terletak pada gaya bahasanya, melainkan makna filosofis yang ada dalam setiap cerita di buku ini. Salah satunya, kisah Harumi di perkenalan. Aku berusaha menebak-nebak kemana alur kisah ini. Namun, setelah sampai di akhir cerita, ternyata Harumi adalah roh yang masuk di tubuh seorang gadis, meninggalkan sebuah pesan. Pesan yang sudah banyak diabaikan kebanyakan orang. Termasuk aku. 

Begitu juga pada kisah Rumah, sudut pandang yang paling aku sukai. Karena penulis menjadikan rumah sebagai narator dalam kisah ini. Membaca bagian ini, aku teringat betapa rumah sangat berarti, menyimpan segela kenangan baik itu suka maupun duka. Lalu, aku mengambil arti sisi lain dari cerita ini, betapa rumah pun akan kesepian ketika ia tak dihuni lagi. Bukan hanya manusia kan yang memiliki rasa? 

"Bukankah setiap rumah memiliki sejarah gelapnya masing-masing dan setiap manusia tetap akan pulang ke rumahnya, berdamai dengan masa lalunya sendiri? hal. 58


Selain kisah Harumi, ada beberapa cerita lainnya yang berhubungan dengan pertikaian dan peperangan. Meskipun merasa ngeri saat membaca bagian ini, lagi dan lagi penulis ingin menyampaikan pesan bahwa betapa peperangan hanya akan berakhir di atas genangan darah seperti kisah Sepenggal Dongeng Bulan Merah. Bukan hanya sekedar kisah tragis di dalamnya, melainkan kisah cinta di beberapa bagian yang sungguh menarik sekaligus menyayat hati.  

"Aku tidak tahu Sang Penghasut tinggal dimana, tetapi aku percaya tangan-tangannya berada dimana-mana, memanjang, menjulur seperti tentakel gurita, menggenggam, dan menggerakkan apapun dan siapapun sesuai kehendaknya." hal 134

Tak banyak yang bisa kuceritakan saat setelah membaca buku ini. Satu hal yang pasti, penulis telah berhasil memberi sejumput kenangan di hati pembacanya. Dan, menurutku, setiap orang memiliki sudut pandang akan makna di balik kisah dalam buku ini.  Membaca buku baik itu novel ataupun kumcer yang bermakna filosofis, bagiku tergantung pada setiap sudut pandang bagaimana pembaca memaknai itu.

"Kebenaran Tuhan terlalu luas untuk dirangkum oleh satu agama saja. Ada secuil kebenaran di setiap tempat, bahkan di tempat-tempat yang kita kira hanya menampung kekeliruan." hal. 155

Nah readers, buku ini pas banget bagi kamu yang menyukai kumcer terlebih saat memiliki makna filosofis untuk menambah renungan readers terutama kala senja memenuhi langit (sok puitis aku) hehe....

Happy reading :)


[REVIEW] Mencintai Tanpa Dicintai

"Ada satu kata yang membuat kita bisa terus melangkah. Yaitu jalani saja. Baik buruknya biar waktu yang akan memberi jawaban. Menakuti masa depan yang belum terjadi adalah kebodohan yang paling menyakitkan." hal. 31

BLURB

Kisah ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang sangat mencintai Tuhannya. Kemudian dialihkan perhatiannya oleh seorang wanita yang mampu meluluhkan hatinya. Setelah wanita itu mendapatkan hati sang lelaki, wanita itu pun tidak menghiraukannya. Perasaan lelaki terbawa olehnya, sampai wanita itu menikah, lelaki itu tak mampu mencari penggantinya.

Judul: Mencintai Tanpa Dicintai

Penulis: IF

Penerbit: Pustaka Taman Ilmu

Tebal: vi+192

MyRate: 3/5

#31HariBerbagiBacaan


 
***

Kerasnya hidup memang tak lepas dari kisah setiap orang. Dan itulah yang dialami oleh Zain. Berasal dari keluarga sederhana bahkan menuntut hidupnya untuk bekerja keras di usianya yang masih remaja. Zain yang masih sekolah, tidak lepas dari kesan kehidupan anak remaja pada umumnya. Dia yang juga merupakan ketua OSIS di sekolahnya, menyimpan rasa yang amat mendalam terhadap Yati. 

Berbeda dengan Zain, Yati memiliki kehidupan serba mewah. Dia pun berbeda sekolah dengan Zain. Akan tetapi, tidak semua perjalanan kisah cinta berjalan dengan mulus, Yati, meskipun memiliki hubungan dekat dengan Zain, walau jarang bertemu, Yati tidak membalas cinta Zain karena sesuatu. Padahal, Zain jika dibandingkan dengan anak remaja lainnya, ia terbilang cerdas dan juga religius. 

Membaca novel ini, aku teringat dengan kisah Ipung dalam novel "Hidup itu Keras, Maka Gebuklah". Hanya saja, Zain tidak setegas Ipung dalam menghadapi persoalan hidup yang dialaminya. Aku tidak bermaksud membandingkan Ipung dengan Zain. Lewat buku ini, penulis mencoba memberikan pesan tersirat kepada pembaca.

Baru kali ini, aku membaca novel dengan penokohan yang menurutku berbeda. Aku memandang Zain sebagai tokoh yang protagonis, sementara Yati antagonis. Bagaimana mungkin Zain bisa jatuh cinta dengan Yati yang terkesan sangat plin-plan?. Mungkin wajar terjadi di usianya yang masih remaja.

Sikap keluarga Zain sejujurnya membuatku greget. Kedua orangtua Zain tidak mendukung Zain saat Zain berusaha mendaftar di universitas dengan usahanya sendiri yang menurutku mereka sangat perhitungan, namun inilah kelebihan penulis membawa emosional pembaca menyelami kehidupan Zain yang sebenarnya bagiku, terlalu pahit.

Bahasa yang digunakan pun ringan, sangat cocok dibaca saat meluangkan waktu santai, hanya saja aku menemukan beberapa sudut pandang  yang bermakna ambigu dan juga beberapa adegan yang kurang detail. Namun, secara keseluruhan, novel ini menarik untuk dibaca, karena secara tidak langsung ada pesan tersirat yang dikemukakan oleh penulis melalui kisah Zain, juga ending yang diluar dugaanku saat membacanya. 

"Kesucian hati ini membuatku yakin akan cintaku padamu, izinkan aku selalu bersamamu, ku ingin bulatkan tekadku untukmu." hal. 42



Selamat membaca dan bernostalgia kembali :) 



[REVIEW] My Wedding Dress

"Cinta itu sama dengan energi. Sekali hadir, dia nggak akan pernah bisa menghilang, hanya bisa berubah bentuk." hal. 110
 
BLURB:

Apa yang lebih mengerikan selain ditinggalkan calon suamimu tepat ketika sudah naik altar? Abby pernah merasakannya. Dia paham betul sakitnya.

Abby memutuskan untuk berputar haluan hidup setelah itu. Berhenti bekerja, menutup diri, mengabaikan dunia yang seolah menertawakannya. Ia berusaha menyembuhkan luka. Namun, setahun yang terasa berabad-abd ternyata belum cukup untuk mengobatinya. Sakit itu masih ada. Bahkan menguat lebih memilukan.

Lalu, Abby sampai pada keputusan gila. Travelling mengenakan gaun pengantin! Meski tanpa mempelai pria, ia berusaha menikmati tiap detik perjalanannya. Berharap gaun putih itu bisa menyerap semua kesedihannya yang belum tuntas. Mengembalikan hatinya, agar siap untuk menerima cinta yang baru. 



Judul: My Wedding Dress
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Penulis: Dy Lunaly
Tebal: 264
ISBN: 978-602-291-106-7
MyRate: 4/5
#31HariBerbagiBacaan

*

Bagaimana rasanya ditinggal oleh calon pendamping hidup tepat di hari pernikahan? Yah tentunya sakit, pake banget malah.

Novel ini mengisahkan Abby yang ditinggal oleh calon suaminya tepat di hari pernikahan mereka. Abby yang tidak tahu mengapa Andre meninggalkannya begitu saja tanpa alasan. Hingga Abby memutuskan untuk melakukan travelling, berharap dia bisa melupakan kenangan masa lalu yang justru memenuhi ingatannya. Susah move on? Begitulah keadaan Abby. Namun, berkat dorongan Gigi dan buku travelling yang nggak sengaja dibaca Abby, dia memutuskan untuk melakukan travelling, uniknya, Abby melakukan itu dengan menggunakan gaun pengantinnya.

 "Aku hanya butuh waktu untuk sendiri dan melihat ke dalam diriku, apa yang ingin kulakukan setelah rencana hidupku berantakan." hal. 15

Memakai gaun pengantin merupakan ide gila saat melakukan travelling. Abby nggak hanya mengundang banyak perhatian, tapi gaun pengantin itulah yang mengingatkannya pada Andre, mantan kekasihnya. Perjalanan untuk membuang kenangan itu, mempertemukan Abby dengan Wira. Seorang traveler yang sudah menekuni hobby sekaligus pekerjaan itu selama 5 tahun. Wira yang penuh pesona dan terlihat bahagia, ternyata menyimpan luka yang dalam.

Dari awal membaca novel ini, penulis sukses membuatku penasaran banget dan ikut bertanya-tanya why why dan why? Aku merasa menjelma seperti Abby. Gadis malang yang ditinggal calon suaminya. Namun, di sisi lain, aku juga terbawa suasana traveling di novel ini, alur yang mudah dipahami karena penulis menggunakan sudut pandang pertama, aku.

Kehadiran sosok Wira yang menurutku masuk kategori cowok idaman, penuh kejutan, memiliki sisi romantis, dan cara pandangnya tentang memaknai hidup  membuatku senyum-senyum sendiri saat baca novel ini. Aku nggak pernah merasa bosan membaca buku ini hingga nggak terasa sampai di akhir bab. Penulis sukses menggambarkan kisah dalam novel ini meskipun aku merasa kurang detail tentang seluk-beluk keluarga Wira.

Konflik yang ada dalam novel ini sangat menarik. Aku bahkan tak menduga jika penulis menyimpan dengan hati-hati persoalan Andre yang bahkan aku sendiri nggak bisa menebak alasan kenapa dia meninggalkan Abby. Hanya saja, aku merasa konflik yang ada pada Wira kurang menggigit. Begitupun penyelesaian konflik yang terjadi pada Abby terasa cepat. Mungkin, karena terbawa emosi saat merasakan bagaimana penderitaan Abby. Jika di sisinya, barangkali aku bakal menghajar habis-habis mantan kekasihnya itu. Tapi, secara keseluruhan novel ini sukses menarik dunia imajiku masuk dalam kehidupan Abigal Kenan Larasati. 

Oiya dalam novel ini, nggak hanya berkisah tentang perjalanan Abby dan Wira, latar dalam novel ini sangat menggiurkan imajinasi. Suasana Penang Hill, Tanjung Rhu, Swan Lake-nya Bolshoi di Singapura dan Langkawi yang tentunya menambah daya tarik dalam novel ini. Nggak hanya tempat-tempat yang memukau, akan tetapi sedikit banyaknya readers bisa tahu kehidupan traveler melalui kisah ini.

"Travelling itu tentang keberanian menantang batasan yang kita punya. Keberanian buat ngelewatin tantangan yang kita  temui selama travelling." hal. 85

"Travelling ngajarin kamu untuk mensyukuri hal-hal kecil dan ngajarin kamu melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang berbeda." hal. 26

Sanggupkah Abby melupakan Andre yang tega meninggalkan dia di hari pernikahannya? Apakah Andre akan datang menemui Abby setelah setahun, lalu menjelaskan alasannya pada Abby?

Aku greget dengan Wira. Apa perjalanan ini hanya sebatas travelling yang kebetulan bertemu dengan Abby? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?

Penasaran kan readers, hehehe. 

"Hidup itu tentang mengeja ikhlas. Bagaimana kita belajar untuk ikhlas menerima kondisi apapun dalam hidup kita dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya." hal. 233


Selamat membaca :)
Selamat move on :)

[CERBER OF MY BOARDING HOUSE PART 5] Nita si Pinky Girl


"Nggak semua hubungan pertemanan itu mulus, nggak semua kisah anak kos-kosan itu seru-seruan, tapi bagaimanapun itu, selalu saja ada hal-hal yang mengejutkan." 

****

Aku melupakan sejenak tentang rasa kekecewaaku pada diriku sendiri (baca part 4). Seperti biasa, aku kembali pada rutinitas sehari-hariku. Namun, hari ini ada yang berbeda di kosanku, saat  semua memendam kekesalan yang perlahan muncul kepermukaan.

Akhir September

Seperti biasa, Fay, Yuki dan Nita selalu berkumpul di dalam kamarku. Ada banyak hal yang biasa mereka ceritakan. Mulai dari bergosip seputar dunia artis, kadang juga mereka memperdebatkan masalah Jessica yang nggak ada habis-habisnya dibahas di teve, atau terkadang juga mereka hanya berkumpul dan sibuk masing-masing dengan gadget. Terutama aku. Sesekali, aku menimpali obrolan mereka. Itupun, Yuki terkadang menertawaiku saat merespon mereka. Katanya, aku nggak nyambung. Jujur kuakui itu memang benar. Bagaimana bisa aku nyambung dengan topik mereka, sementara aku sibuk mengetik atau membaca.

Fay selalu tampil cantik di antara kami, memang dia yang paling memperhatikan penampilan. Tak heran jika setelah bangun pagi, hal pertama yang dia kunjungi adalah cermin. Warna kesukaannya Biru. Jika kau masuk di dalam kamarnya, jangan kaget dengan semua aksesoris dan riasan tempat tidurnya, semuanya berwarna biru. Saking cintanya dengan warna biru dan doraemon itu, kerudungku yang berwarna biru dan jarang kupakai, akhirnya berfungsi juga di tangan Fay. Antara aku dan Fay, nggak pernah terjadi masalah besar. Sudah tiga tahun kami tinggal sekosan. Sejauh ini, dia teman yang menyenangkan. Bagiku, dia cocok jadi pengacara, memiliki banyak dalih, bisa berdebat, dan sebenarnya dia sangat cerdas.  Jika Fay pulang kampung, aku sangat senang. Karena aku yakin, setelah balik dari kampung, dia yang paling banyak membawa oleh-oleh terutama nasu palekko' kesukaanku. Oiya kebiasaan buruk Fay yaitu bangun kesiangan, kupikir aku yang paling telat bangun pagi, ternyata Fay keterlaluan! dan juga saat Fay mulai bercerita dia lupa berhenti. Satu hal yang selalu aku cemaskan dalam diri Fay, saat sesuatu yang aneh dari Fay kumat (baca part 2), meski begitu, sebagai teman, kita harus menerima kekurangan masing-masing.

Three Tin (baca part 1), Austin, Olvin dan Bustin. Ketiganya memiliki ciri khas terendiri. Jujur yah, aku belum tahu banyak hal tentang mereka. Pertama, kamar mereka di lantai dua, kedua aku jarang bertemu mereka. Tapi sejauh ini aku mengenal baik Three Tin. Saat makan bareng, yang paling ribut adalah Bustin. Oiya Bustin ini calon penerus Fay, dari penampilan sama, kocak sama, kehebohannya juga sama. Saat makan pun, Bustin yang paling heboh. Aku suka melihat wajah Bustin yang mirip orang Jepang. Austin, sekamar dengan Olvin. Datang jauh-jauh di Makassar untuk kuliah. Hebatnya, mereka berdua bisa main gitar. Setiap malam di kos, aku terhibur dengan suara petikan kedua teman kosku ini. Saat makan bareng, yang paling diam di antara kami yaitu Austin. Kupikir, dia calon penerusku. Terlihat kalem dan nggak banyak ngomong. Beda lagi dengan Olvin. Suaranya lucu. Gemesin sih sebenarnya, mirip suara anak-anak. Tapi, dia itu sangat ramah. Dan dia yang selau bangun pag-pagi, menyapa aku jika kebetulan bangun pagi.

Yuki, aku  masih merahasiakan tentang Yuki, Yuki yang paling dekat denganku dan juga akhir-akhir ini yang paling sering nginap di kamarku. Satu hal yang aku suka dari Yuki, kau akan tahu cerita berikutnya di bagian enam.

Nita? dia anak tunggal di keluarganya. Aku nggak tahu bagaimana rasanya jadi anak tunggal di keluarga, kesepian kah atau malah bahagia karena nggak punya saudara yang terkadang nyebelin. Entahlah, hanya Nita yang tahu. Jika diibaratkan seperti bersaudara mulai dari Fay, Yuki dan Three Tin, Nita anak tengah, karena yang paling muda itu Three Tin. Yang paling senior, aku dn Fay.

***

21.00

Aku sedang asyik blogging. Fay dan Yuki masuk di kamarku. Kubiarkan mereka berceloteh di kamar. Topik utama obrolan mereka, tentang kisah cinta Fay. Aku hanya diam, dan sebenarnya juga menguping. Lama Fay bercerita tentang kisahnya yang menurutku dramastis. Yuki mengalihkan topik. Kali  ini topiknya cukup sensitif. Soalnya, mereka menyinggung soal Nita.

"Kamu tau nggak belakangan ini aku kesel dengan Nita" kata Yuki sambil menekuk dagu di sampingku.
"Kesal kenapa?" Fay ikut menimpali sembari memperbaiki posisinya yang dari tadi baring.
"Aku merasa Nita nggak peduli lagi dengan aku, selama ini kami sering bertengkar kecil-kecilan, aku pikir, cara dia bercanda keterlaluan. Dan juga, Nita lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman barunya." Yuki manatap serius ke arah Fay.
"Kok bisa gitu?" Tanya Fay yang mulai serius menanggapi.
"Aku nggak tau juga kak, tapi aku merasa seperti itu. Aku juga nggak suka cara dia mengkritik orang lain, terlalu pedas menurutku. Padahal, nggak seharusnya seperti itu juga. Belum tentu kita sempurna."

Radar telingaku mulai merespon, kali ini aku tertarik dengan obrolan mereka.
"Santai aja Yuki, nggak usah terlalu serius menanggapinya. Tapi kalau boleh jujur sih aku juga agak risih belakangan ini, Nita sudah jarang datang di kamarku, padahal kemarin-kemarin Nita selalu datang di kamarku, apalagi saat aku sakit. Nah sekarang?" Sepertinya Fay juga ikut menyuarakan pendapatnya.

Aku sebenarnya mengerti suasana ini. Namun, aku masih memilih diam. Fay dan Yuki terus berbicara seputar Nita. Sesekali aku bergumam, iyya hmmm, oh masa? kepada mereka. Namun, karena mereka terus berceloteh, akhirnya aku nimbrung juga.

"Aku pikir cuma kalian yang merasa, aku juga. Nggak banyak sih, aku nggak masalah dengan sikap Nita, secara dia masih belasan tahun, terbilang masih labil dan sedikit kekanak-kanakan. Cuma hal yang nggak aku suka itu saat dia meminjam barang-barangku. Nita nggak bilang dulu. Padahl aku biasaya sibuk mencari. Asal kalian tau, mencari barang yang hilang adalah yang paling kubenci." Secara reflek entah kenapa aku akhirnya ikut nimbrung juga di obrolan mereka.

Yuki menganggu-angguk mengiyakan begitupun Fay. Kami berempat membicarakan persoalan Nita. Dalam hati, aku membatin. Hatiku memaki saat ngomongin kejelekan orang. Tapi, itu semua demi kebaikan Nita.

"Wajar sih sebenarnya kalau Nita begitu, secara dia masih bertingkah kenakak-kanakan, selain itu, mungkin dia belum tahu banyak hal. Atau bisa jadi karakternya yang memang begitu." timpal Fay.
"Iya sih kak, tapi menurutku usia nggak pernah mempengaruhi sifat kedewasaan seseorang." tetap saja Yuki masih memiliki unek-unek.
"Ya sudah, kalian ngomongin aja ke Nita, kan lebih baik." aku meilih jalan tengah, mencoba mencari solusi. Sebenarnya, aku terbawa suasana dari obrolan Yuki dan Fay, wajar saja jika aku merasakan hal yang sama. Namun, setelah kami pikir, itu murni karakter Nita yang memang masih kekanak-kanakan. Terkadang, Nita sangat perhatian, di sisi lain, Nita juga bisa sangat cuek. Dari semua anak di kos, memang Nita yang sering berubah-ubah suasana hati.

Akhirnya obrolan malam ini berakhir tanpa solusi. Satu kepingan yang tersembunyikan muncul juga di permukaan. Dari obrolan itu, aku jadi banyak tau hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku suka sebenarnya obrolan seperti ini, kami bisa jujur dari hati ke hati. Aku juga mengutarakan tentang unek-unekku pada Fay dan Yuki. Hanya saja, kami merasa kurang, malam itu Nita nggak ikut nimbrung. Dan, aku merasa bersalah. Semoga saja, kekesalan yang ada di hati kami nggak menjelma menjadi kebencian.

***

Awal Oktober

Aku gusar. Bagaimana tidak. Kekecewaanku minggu lalu karena gagal bertemu penulis, muncul kembali. Kali ini beda. Kesempatan itu tiba lagi. Besok, aku harus menghadiri kegiatan itu. Apalagi, penulisnya yang langsung memberikan informasi. Deg! aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini karena hal sepele.

Saking girangnya, aku nggak bisa tidur semalaman. Aku terus memikirkan acara itu yang akan di adakan di sebuah kafe. Dan yang paling membuatku senang, karena lokasinya berbeda dibanding minggu lalu. Aku sudah mempersiapkan pertanyan-pertanyaan untuk penulis itu saat acara berlangsung. Jika beruntung, aku juga mau minta tandatangan penulisnya.

Aku nggak tahu sejak kapan aku segila ini jika menyangkut buku dan penulis. Tiga tahun berlalu kulalui biasa-biasa saja. Tak banyak yang tahu, selama tiga tahun itu aku merasa terpukul. Banyak peristiwa yang datang silih berganti. Kehilangan jejak dan mimpi, kehilangan kasih orangtua, kehilangan sahabat terbaikku dan juga persoalan cinta. Namun, sebulan terakhir mengalahkan kegalauanku selama tiga tahun itu. Aku benar-benar merasa bahagia. Yah bahagia menemukan hobby lamaku yang sudah terkubur dalam-dalam.

Besok adalah momen yang kunanti-nantikan. 

***

Aku terkulai lemah di dalam kamarku. Seperti biasa, kamar ini menjadi saksi bisu akan luapan kekecewaanku akan banyak hal. Hari yang kunantikan sepertinya akan menjadi hari terburuk dan terulang kembali. Agenda yang kurencanakan gagal. Kelemahan terbesarku adalah aku tidak tahu banyak hal tentang tempat-tempat di kota ini, dan teman yang kuharapkan untuk datang bersama terpaksa membatalkannya.

Lama aku terdiam di kamar. Waktu semakin memburu, aku merasa kehilangan harapan untuk yang kesekian kalinya. Yuki, datang di kamarku. Aku tahu dia menatapku penuh simpati. Sebenarnya, Yuki yang sudah berjanji menemani aku, namun sesuatu yang darurat hingga dia membatalkan itu. Aku paham kondisinya, hanya saja aku merasa kehilangan harapan. Memang ini resiko yang selalu kuhadapi. Aku tidak punya banyak teman.

Aku pikir, Yuki datang di kamarku untuk mengambil pakaiannya sebelum pergi.

"Kak Edel, maaf yah sekali lagi. Aku terpaksa batalin janjinya. Tapi..." Suara itu menggantung di langit-langit kamarku. Aku menoleh lembut kepadanya. "Nggak apa-apa Yuki. Masih banyak waktu lain kok." Aku berusaha menutupi guratan kekecewaan dalam hatiku.
"Tapi tenang kak, ada Nita. Nita yang akan temani kakak dataNg ke acara itu."
"Bagaimana bisa Ki, Nita nggak tahu tempatnya, lagipula... Nita nggak sanggup naik kendaraan umum." Kabar itu memberi secercah harapan. Tapi, buru-buru aku menepisnya.
"Kak, tenang, ada motor. Kita bisa pakai motor temanku." 
"Bagaimana dengan Nita? apa dia mau?" Aku masih mengingat obrolan kami kemarin. 

Belum sempat pertanyaanku dijawab Yuki, tiba-tiba Nita muncul di depan kamarku.

"Hey kak! tenang aja, jangan galau gitu ah.. aku bisa temani kak Edel." Suara Nita mengagetkanku. Nita memiliki volume suara yang besar, Terkadang, dia kehilangan kontrol. Namun, suaranya itu pula yang meramaikan kosan ini.

Aku hanya menatap mereka berdua. Jujur, aku sangat terharu. Aku nggak tau harus ngomong apa ke Nita dan Yuki. Keduanya sangat peduli denganku. Apalagi Nita, sesuatu yang nggak pernah kuduga sebelumnya.

***

Acara itu sangat berati bagiku. Setelah sekian lama berkutat di duniaku sendiri, baru kali ini aku keluar lagi. Seperti halnya Rapunzel. Aku melirik Nita yang duduk di sampingku. Aku mendapatinya menguap, sesekali kutanya apakah dia baik-baik saja. Dan dia selalu meresponnya dengan senyum. Aku sangat bersyukur, mungkin baginya ini biasa-biasa saja. Tapi tidak bagiku. Aku nggak akan menginjakkan kakiku di kafe dan mengikuti talkshow dari penulis tanpa ditemani Nita. Dan tentunya dari kehendak Yang Maha Esa.

Kami pulang sekitar pukul sepuluh malam. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan Nita. Memikirkan obrolan kemarin. Entah mengapa rasa bersalah menelusuk ke dalam hatiku. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Nita. Tapi, lidahku terlalu kelu untuk hal yang seperti itu.

Malam ini, bukan hanya tentang pengalamanku yang berkesan, tapi tentang Nita yang penuh kejutan. Mungkin, dia bersikap seperti itu karena memang belum tahu banyak hal, bisa jadi karena dia anak tunggal, dan entahlah. Yang jelas, nggak ada yang sempurna. Nggak ada yang seratus persen memiliki kepribadian baik di kos ini. Begitupun diriku. Terkesan cuek dan nggak peduli.

Aku mengambil nafas lega malam ini. Nita kembali ke kamarnya. Kulambaikan tanganku yang penuh girang di hadapannya. Kuharap dia bisa mengerti tatapan mataku yang penuh terima kasih kepadanya.

"Terima kasih Nita." Gumamku dalam hati sambil memeluk buku yang selama ini kuincar di acara itu.
_______

Untuk Nita gadis penyuka warna Pink.
04 Oct_16
picture taken by google
_______

Tulisan ini ikut dalam event #JujurinAja

Aku Ingin... Ingin Memelukmu




Tak ada senja pun tak ada hujan
biasanya, kedua hal itu menyeruakkan kembali kenangan-kenangan masa lalu
aku masih seperti biasa
menyibukkan diri dengan imaji
tak kusangka alunan musik bisa seperti senja
memunculkan kembali kenangan di permukaan ingatan
Aku ingat senyum Ayah yang bijak
atau masakan Ibu yang menyengat
sedang apa mereka saat ini, aku tak tahu
kubiarkan alunan musik mengalir begitu saja
menyesap setiap kenangan yang perlahan muncul kembali
Aku ingin... ingin sekali memeluk
memeluk Ayah dan Ibu
sekali lagi, keinginan itu bagaikan meraih benda di balik jurang
bertemu seseorang di balik kaca
menatap cahaya bulan di malam hari
sendu... hanya bulir-bulir air mata memeluk malamku saat ini


-----------
04 okt_16
pict taken by google


Tanya Penulis: Al-Fian Dippahatang

Hello teman-teman apa kabar, semoga dalam keadaan sehat walafiat yah semua.
Kali ini di rubrik bincang-bincang aku akan kepoin Penulis muda asal Makassar. Waw, seneng banget rasanya punya kesempatan bisa tanya penulis yang saat ini sedang merilis buku barunya. Semangkuk Lidah. Dari judulnya aja sangat unik. Penasaran seperti apa penulisnya, yuk kita kepoin.


Etss tunggu dulu, yuk intip profil kak Al-Fian Dippahatang:

Al-Fian Dippahatang yang akrab disapa Fian oleh teman dekat maupun penggemarnya, lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan 3 Desember 1994. Saat ini, kak Fian melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas terbesar di Makassar, Universitas Hasanuddin jurusan sastra Indonesia. Karya-karyanya termuat dalam buku Antologi Pemenang Lomba Menulis: Jejak Sajak di Mahakam, Lanjong Art Festival 2013 (Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara, 2013), Kisaeng (Edukasi Press, 2014), Ground Zero (Diva Press, 2014), 175 Penyair dari Negeri Poci 6, Negeri Laut (Kosa Kata Kita, 2015), Gelombang Puisi Maritim (Dewan Kesenian Banten Satelit New Book, 2016) Rumah Pohon 100 Dermawan Bahasa Ngopinyastro (Interlude, 2016) dan Pasie Karam. Temu Penyair Nusantara pada Pekan Kebudayaan Aceh Barat 2016, menerbitkan buku antologi puisi bersama Penyair Muda Makassar, Benang Ingatan (Indie Book Corner, 2016) dan masih banyak lagi prestasi-prestasi lain dari kak Fian yang tentunya teman-teman akan tahu melalui karya-karya kak Fian. Langsung aja yuk kepoin penulisnya. 


Hello Kak Fian, sebelumnya makasih banyak nih atas kesediaan  kak Fian. Kesan pertama saat baca buku kak Fian itu, bagiku sangat unik dan bikin penasaran, membuatku ingin baca terus tiap lembar puisinya. Kalau boleh tau, sejak kapan sih kak Fian mulai nulis puisi?

"Saya lupa kapan saya mulai menulis puisi, yang jelas saya mulai serius menulis puisi sekitar awal 2012. Selain menulis puisi, saya juga menulis prosa, sesekali esai. Paling pasti, ya membaca buku. Intinya, kegiatan saya sangat erat dengan literasi."
  
wah keren kak, sepertinya puisi memang sudah melekat di hati kak Fian. Boleh tau dong kak, apa arti puisi bagi kak Fian? 

"Arti puisi bagi saya, puisi adalah lorong lain untuk menyempitkan hal lebar dan luas yang banyak mengganggu pikiran saya. Mungkin, karena saya tinggal di tempat berlorong, jadi saya mengartikan puisi sebagai lorong lain. Hehe"

Nggak nyangka, sedalam itu arti puisi bagi kak Fian. Oiya kak, buku "Semangkuk Lidah" yang baru rilis ini bertema tentang makanan khas Makassar, coto. Menurut aku, itu sangat unik banget, mau tau dong kak kenapa coto jadi tema utama di puisi kak Fian, kenapa bukan tema lain, seperti cinta atau apa gitu?  

"Selama setahun lebih, saya memiliki pengalaman kuliner yang saya anggap itu adalah riset kecil-kecilan sembari membaca buku dan artikel. Dan tanpa saya sadari pengalaman itu adalah pengalaman makan yang didominasi oleh coto. Tetapi, tidak hanya coto, di buku puisi Semangkuk Lidah itu, berbicara juga tentang ibu dan ayah, peralatan dan bahan-bahan di dapur, dan masa lalu, anggap itu kenangan. Jadi, saya membaca banyak buku puisi, dan saya melihat dari hasil pembacaan saya, tema tentang kuliner khususnya coto, kurang dominan untuk digarap. Saya mencoba ambil celah itu, untuk menjadikannya khas dan bisa menonjol di buku puisi Semangkuk Lidah. Di buku puisi Semangkuk Lidah sebenarnya, tidak lepas juga persoalan cinta, hanya saja saya mengungkapkannya dengan cara yang menurut saya tidak berlebihan, dalam arti tidak begitu menonjol. Pengungkapan cinta yang hanya dijadikan sebagai kronologi penceritaan dari tema besar yang saya garap. Agar, setidaknya menjadi bumbu untuk meningkatkan kreativitas saya dalam menulis puisi."

Wah baru tau kak, ternyata kuliner bisa jadi inspirasi untuk membuat puisi. Terlebih lagi Ayah dan Ibu memberi banyak pengaruh akan ide-ide di tulisan kak Fian dan ternyata tidak lepas dari persoalan cinta. Ngomong-ngomong untuk kedepannya kira-kira ada nggak kelanjutan puisi "Semangkuk Lidah" atau kak Fian sudah punya rencana untuk puisi selanjutnya?


"Saya belum punya rencana untuk ke depannya. Tapi, yang jelas, saya masih meriset untuk menggarap hal yang lebih serius lagi tentang kuliner, yang tidak akan hanya terkhusus satu tema makan khas tertentu, untuk menuliskannya menjadi puisi-puisi yang kuat."

Sip kak, ditunggu banget karya selanjutnya. Pertanyaan terakhir nih kak, apa sih yang paling memotivasi kak Fian menulis puisi? 

"Yang paling memotivasi saya menulis puisi adalah kisah kanak saya yang kurang bahagia (sebut itu tidak bahagia). Saya merasa, menulis puisi adalah cara untuk kembali ke sana dengan membuat kisah baru yang setidaknya bisa saya susun lebih menarik dan lebih berkesan ke dalam puisi. Kisah kanak yang bahagia dalam permainan."

Jadi baper nih ingat masa kanak-kanak juga.  Makin penasaran ingin menyelami setiap kisah yang tertuang dalam puisi kak Fian. Btw, pesan untuk para pembaca apa nih kak hehe?

"Pesan bagi pembaca: saya tak tahu, apakah saat ini saya punya pembaca atau tidak. Yang jelas, saya hanya berpesan satu, terima kasih jika mau membaca puisi-puisi saya."


------------------------ 

Yapss,, itu tadi teman-teman sekilas tentang penulis dan tanya penulis kak Al-Fian Dippahatang. Masih banyak banget sebenarnya yang mau dikepoin, kalau mau tau lebih lanjut tentang penulis, baca bukunya yah hehe. Berhubung karena beberapa pertanyaan sudah terwakili yuk simak info berikut.


Akan ada Giveaway buku "Semangkuk Lidah" dari penulis untuk dua orang pemenang!  Bagi teman-teman yang mau mendapat bukunya langsung dari penulis, pantengin terus yah blogku, syarat pertamanya silahkan beri komentar disini, Follow akun G+/GFC di blog agar dapat update giveawaynya, add facebook Al-fian dippahatang, @pentilmerah (twitter) dan Ainhy Edelweiss (FB) . Giveaway akan diadakn tanggal 08 Oktober sampai 16 Oktober. So stay tuned yah. :)


[REVIEW] peREmpuan

"Katamu cinta tidak akan membuat orang sekarat.
Betul, aku tak sekarat.
Melainkan mati menanggung semuanya seorang diri.
Aku seperti gelas kopi yang dihidu aroma wanginya,
dicecap semua isinya.
Tak cuma ditinggalkan setelah kosong.
Tapi dibanting dan hancur berkeping-keping."





Judul: peREmpuan
 Prnulis: Maman Suherman
Penerbit: KPG
Tebal: vi+189
ISBN: 978-602-6208-32-3
Cetakan 1: Mei, 2016
Dibaca melalui app SCOOP
#31HariBerbagiBacaan (Reading Challenge)


Dua puluh enam tahun setelah kematin Re:, Melur kembali ke tanah air dengan gelar PhD tersandang di belakang namanya.
Sejumlah tanya ia bawa pulang: siapa sebenarnya ibu kandungnya? betulkah ibunya diperjualbelikan, dipaksa menjadi pelacur lesbian? Apa penyebab kematian ibunya yang teramat tragis itu? 
Herman menyambut kedatangan Melur dengan risau. Haruskah rahasia yang ia pendam lebih dari seperempat abad itu diungkap? Tidakkah hal itu memicu Melur untuk balas dendam? 
Mengapa buku kehidupan perempuan harus sarat seloka luka? 

***

Novel "peREmpuan" merupakan kelanjutan dari novel pertama yang ditulis oleh Maman Suherman, "RE:". Dalam novel ini, mengungkap kisah lain yang tidak dibahas dalam novel pertama. Adalah Melur, seorang perempuan yang menyandang gelar Phd di Tokyo, Jepang. Melur tidak pernah tahu siapa ibu kandungnya yang sebenarnya. Hal itulah yang membuat gusar Maman, menyembunyikan identitas ibu kandung Melur adalah amanah yang harus dijaga baik-baik. Dia tak ingin mengingkari amanah dari seorang wanita yang dicintainya di masa lalu, pun tidak ingin melihat sedih Melur. Akan tetapi, jauh di luar dugaan Maman, Melur mengetahui siapa ibu kandungnya.

\Banyak orang yang berfikir bahwa buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Memang itu benar, namun tak semua hal jelek dari orangtua bisa memberikan kesimpulan bahwa anaknya pun akan seperti itu. Buktinya Melur. Novel ini tidak hanya mengungkap sisi lain kehidupan seorang pelacur, akan tetapi memberikan pesan kepada kita bahwa semua orang berhak menjadi yang terbaik. Hal yang paling menarik bagiku dalam novel ini adalah kisah Melur, bagaimana reaksinya saat mengetahui ibunya yang sebenarnya, dan bagaimana ia mencari sendiri identitas ibunya. Lalu bagaimana dengan Maman harus menjawab pertanyaan Melur? tidakkah itu juga akan menyakiti perasaannya, mengingat kembali Re:, sosok perempuan malang yang pernah singgah di hatinya? 

"Apakah di dunia ini semua pertanyaan wajib dijawab? Dan, apakah seseorang punya kemampuan untuk berlari tanpa henti dari sesuatu yang tak diinginkannya? hal. 55

Karena menggunakan sudut pandang pertama, novel ini seakan membawa pembaca terlibat ke dalamnya, ada beberapa adegan yang menurutku sangat memengaruhi emosional pembaca. Bagaimana saat Mami Lani, seorang germo pelacur lesbian  yang tanpa ampun membunuh para wanita yang bekerja dengannya jika ingin berhenti. Sisi ini juga secara tak langsung memberikan pandangan lain terhadap kehidupan pelacur. Adegan lain yang menguras emosiku sebagai pembaca, yaitu saat Re; menyerahkan Melur kepada Bu Marlina saat masih bayi. Lalu bagaimana perasaan Re; saat Melur memanggilnya,"tante?". Melur dewasa yang tiba-tiba menyebut nama Re; sebagai ibu di hadapan Maman. Maman yang sudah lama menutupi rahasia ini, bagaimana mungkin Melur bisa tahu?

"Doa saya tak pantas untuknya, meski saya tidak yakin doa pelacur didengar oleh Tuhan. Tapi setidaknya Tuhan tahu ini doa seorang ibu kepada anaknya. Bukan semata doa seorang pelacur. Doa seorang ibu."

oiya buku ini recomended dibaca khusus 18+ ke atas yah. Secara kesulurahan novel ini sangat menarik untuk dibaca, menggunakan bahasa ringan dan mudah dimengerti meskipun penulis beberapa kali menggunakan majas yang terasa berlebihan, tetapi justru menambah daya tarik kisah dalam novel ini. Sesekali penulis juga menyindir ketidakpedulian pihak berwenang yang tidak mau ambil pusing terhadap kasus yang dianggapnya bukan berasal dari orang berkelas. Miris memang, membaca novel ini aku terbayang seperti apa sosok Melur dan bagaimana perasaan dia saat mengetahui identitas ibunya yang sebenarnya? Apa iya Melur yang sekarang sudah dewasa dan cantik cerdas pula akan membalas dendam?
"Kebenaran, 
seperti halya keadilan,
adalah sebuah cermin di tangan Tuhan
yang jatuh ke bumi, dan pecah berkeping-keping.

Setiap orang berebut memungut serpihannya, 
memperhatikannya dengan seksama,
lalu berfikir telah menemukan 
kebenaran yang adil,
keadilan yang benar.
Aku dan Melur
sepertinya memegang serpihan yang berbeda." hal. 86


--------------
Typo detected
dibicarkan= dibicarakan (hal.133)

 
 

[REVIEW] Mr O vs Miss B PROMISE


BLURB

Alex Choi


Kukira hidupku hanya akan berakhir dengan kesedihan setelah Mary meniggalkanku di hari pernikahan kami. Namun, siapa sangka bahwa keputusanku untuk  meninggalkan New York musim gugur ini justru membawaku kembali pada Gong Min-JI ?

Gadis easy-going, unik, dan pemarah ini membuat hari-hariku menjadi lebiah berwarna. Ia merupakan perpaduan antara tawa dan bahagia yang bukan hanya berarti seorang sahabat, namun juga gadis yang berhasil membawa cinta baru untukku, karena itulah aku berjanji untuk selalu berada di sisinya dan melindungi gadis itu dari siapa pun yang akan memisahkan kami berdua.


Gong Min-Ji


Aku tidak pernah menyangka bahwa Alex Choi akan kembali hadir dalam kehidupanku, laki-laki yang dulu sering menggangguku semasa sekolah ini memang sudah menjadi idola semua orang dengan rambut pirang, mata biru, dan aksen Amerika-nya yang kental.

Kini, ketika kami telah memiliki kehidupan masing-masing dan ia telah memilki kehidupan masing-maisng dan ia telah berubah, justru aku merasa begitu tertarik padanya. Lelucon dan pesonanya sungguh berhasil membuatku takluk. Tapi, apakah ia tahu bahwa kebahagiaan yang datang bersamanya, juga diiringi bahaya yang mengejarku?



 Judul: Mr O vs Miss B PROMISE

Penulis: Byanca Sastra

Penerbit: Grasindo

Tebal: iii-258

Cetakan I: Juni 2016

ISBN: 978-602-375-521-9

Rate: 4/5

#31HariBerbagiBacaan
  
“Kehidupan itu seperti jalan berbatu, menanjak curam, dan berkelok-kelok yang kau lewati untuk mencapai puncak bukit. Terkadang, ada hal tak terduga yang mengadang. Kau sendirian, tidak ada yang bisa menolongmu. Hanya dirimu sendiri pada akhirna yang bisa kau percaya. Jadi, jika kau merasa sedih atau kesepian, pejamkan saja matamu. Kau tidak akan merasa gelap dan takut jika memejamkan mata. Karena pada akhirnya, jika kau harus bertahan, matahari akan terbit kembali dan semuanya akan baik-baik saja..." hal. 56


Kisah ini bermula dari Alex Choi yang ditinggalkan Mary tepat di hari pernikahannya. Hal itu membuat Alex terpukul, hingga dia memutuskan untuk kembali ke Seoul, Korea. Alex memiliki saudara tiri, Ji-Hoon yang baik dan peduli pada Alex meski sebelumnya mereka tidak pernah akur.
Alex adalah seorang arsitek yang handal. Tak disangka, wawancara yang akan dilakukan hari itu di salah satu perusahaan tempat Min-Ji bekerja, mempertemukan dia dengan Gong Min-JI. Min-Ji sempat satu sekolah dengan Alex. Bagi Min-Ji Alex tetaplah seperti dulu, usil dan suka mengganggu Min-Ji. 

Gong Min-Ji memiliki tipe golongan darah B, gadis yang easy-going dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi ternyata memiliki kisah cinta yang tragis. Setiap laki-laki incarannya menolak Min-Ji mentah-mentah. Dan di saat seperti itulah, ia bertemu dengan Alex yang bergolongan darah O.

Membaca novel ini, membuatku tahu banyak hal tentang karakter seseorang berdasarkan golongan darah. Dan yang paling membuatku tertarik untuk segera menghabiskan bacaan di buku ini karena, alurnya yang mudah dipahami, serta konflik yang ada cukup mendebarkan. 

Ada juga tokoh yang aku suka selain Alex dan Min-ji, yaitu Yu-Ri sahabat Min-ji. Yu-Ri bagi aku adalah sahabat special. Dia ada saat yang tepat ketika Min-Ji membutuhkan Yu-Ri. Memang yah golongan darah B selalu butuh seseorang untuk menyelesaikan masalahnya, karena itu pula yang bergolongan darah B tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Yu-Ri adalah sahabat yang tepat. Hanya saja, penulis tidak banyak menceritakan detail lebih jauh tentang Yu-Ri.

“Kau bisa menangis bersamaku. Tapi berjanjilah besok pagi kau akan kembali menjadi Gong Min-Ji yang tegar. Jangan mengejar cinta lagi. Biarkan cinta yang datang padamu.”

Cara penulis menggambarkan kisah cinta antara Alex dan Min-Ji sangat menarik. Keduanya memiliki chemistry yang kuat. Alex yang bergolongan darah O, memiliki sikap humoris, blak-blakan, romantis, tetapi pandai menyembunyikan perasannya. Sementara itu,  Min-Ji yang bergolongan darah O, suka berganti suasana hati, nggak bisa menyembunyikn perasaannya, tapi memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan mudah jatuh cinta.

Lalu bagaimana keduanya bisa menjalin hubungan? Sementara Alex masih trauma dengan masa lalunya, begitupun Min-Ji yang merasa trauma. Apakah mereka hanya  sebatas rekan kerja?

Bahasa yang digunakan  sangat ringan, apalagi genre novel ini romance dan blood type series. So, yang penasaran tentang golongan darah O dan B, buku ini pas banget. Dan satu lagi, aku suka dengan latar dalam novel ini, Korea. Kita akan tahu beberapa makanan khas Korea dan juga tempat eksotis di Negara ini. 

Oh iya aku juga greget dengan tokoh antagonis di novel ini. Nggak nyangka penulis sangat hati-hati menyembunyikan identitasnya. 

Apakah kisah cinta Min-Ji akan berakhir memilukan, lagi?
Sanggupkah Alex melupakan Mary yang tega meninggalkannya di hari pernikahannya?
Dan, bahaya apa  yang mengancam Min-Ji saat setelah ia sudah mendapatkan kebahagiannya?
Penasaran? Sebaiknya dibaca segera teman-teman. Hehehe

“Tidak pernah ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Salah satu diantaranya pasti akan memiliki perasaan lebih.” hal. 94

Selamat membaca :)

REINKARNASI

Mimpi itu sudah mati!
Raib bersama kepergianmu 

Aku mati ditelan mimpi tanpa tujuan
Demi kau, aku rela menukar mimpiku. 

Sudah tiga tahun, aku berjalan bagaikan mayat,
Tanpa mimpi.
Rasanya memang sesak, semakin sesak sejak kepergianmu

Tak ada penyesalan telah merangkai mimpi bersamamu, tak ada.
Kini aku bereinkarnasi, terlahir kembali seperti bayi dari rahim kedukaan

Aku memang baru belajar, merangkak, berjalan tertatih-tatih
Menggapai-gapai asa di langit

Aku bereinkarnasi, terlahir kembali
Untuk mimpi-mimpi meski tanpamu
------
03 Oct_2016

[REVIEW] Pemburu Rembulan

"Pahlawan yang hebat adalah mereka yang terus berjuang walaupun tanpa kekuatan hebat"

 Judul: Pemburu Rembulan

Penerbit: Gradien Mediatama

Penulis: Arul Chandrana

Cetakan I: 2011

ISBN: 978-602-208-010-7

Tebal: 416 halaman

Rate: 3/5

#31HariBerbagiBacaan




BLURB: Dua sahabat. Dua cita-cita. Dua tantangan. Sebuah pulau kecil nan eksotis. Arul yang pengajar bertekad untuk memberikan pendidikan yang menyenangkan pada setiap anak; Amar yang bercita-cita mendaki gunung, akhirnya menjadi pebisnis petualang. Dan, akhirnya mereka mendapatkan semua tantangan itu di sini, di Pulau Bawean, sebuah pulau terpencil di tengah laut Jawa.

*
 "Guru terburuk adalah guru yang membuat siswa tak bisa bicara sepatah kata."

Kisah ini bermula dari dua orang sahabat yang masing-masing memiliki mimpi dan juga kepribadian yang unik. Amar yang memiliki selera humoris, namun berjiwa pengusaha. Memiliki inisiatif untuk mengembangka usahanya di sebuah pulau terpencil. Dia pun mengajak sahabatnya, Arul. 
Berbeda dengan Amar, Arul menapaki pulau itu untuk suatu tujuan yang berbeda dengan Amar, mengajar. Keduanya sepakat untuk berangkat dan menjalankan tujuan masing-masing di pulau Bawean,sebuah pulau yang terletak di tengah laut Jawa.

Kedatangan keduanya disambut oleh Pak Mustar, seseorang yang memiliki kedudukan di pulau itu. Namun, di luar perkiraan Amar untuk mengembangkan usahanya, dia pun harus bersabar menghadapi para masyarakat yang masih berfikir primitif, sederhana. Begitulah keadaan di kampung itu. Merupakan tantangan bagi Amar untuk meyakinkan para masyarakat dalam menjalankan bisnisnya, umbi schratopy. Tak hanya berpeluang mendapatkan keuntungan, umbi ini memiliki khasiat yang mujarab. Dapat menyembuhkan kanker.

Sementara itu, Arul mulai mengajar di sebuah TPA, berlokasi di balai desa. Arul mengajar dengan gayanya sendiri. Dia ingin apa yang selama ini diterapkan dalam hal mengajar tidak terlalu monoton. Respon murid-murid Arul memang luar biasa. Diselingi dengan candaan, Atul menikmati profesinya. Akan tetapi, tantangan yang sesungguhnya baru datang.

Hizzi yang merupakan pengajar di TPA itu, sangat bertolak belakang dengan metode yang Arul terapkan, Bahkan, ia memiliki sikap keras kepala. Apakah Arul mampu meyakinkan Hizzi untuk menerima metodenya? 

Uniknya dalam novel ini, Hizzi yang merupakan ustadzah terlibat kisah asmara dengan Arul. Namun, mereka tidak pernah mengungkapkan perasaannya satu sama lain. Akankah cinta mereka dapat bersatu ataukah keegoisan masing-masing mengalahkan semuanya?

Hm... cukup menarik membaca novel ini, aku bisa tau daerah yang disebut pulau Bawean itu. Terasa sekali selingan humoris dalam novel ini. Hanya sedikit yang kurang, kisah Amar seperti nampak sekilas. Jika saja penulis menggali lebih dalam kisah Amar, maka tentu saja akan menambah daya tarik dalam novel ini.

Meskipun kisah Amar nggak terlalu dalam, aku cukup terhibur membaca novel ini. Ikut menjelajahi setiap peristiwa di pulau Bawean. Sekali lagi, kedua tokoh ini mengingatkan kita akan mimpi-mimpi yang harus dihidupkan.


Selamat membaca :)

Member of Stiletto Book Club

Komunitas Blogger Makassar

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Member of Warung Blogger

Warung Blogger

Member of Blogger Perempuan

Member Hijab Blogger

Free "Care" Day

Free "Care" Day