Kau dengar suara riuh lalu lalang orang-orang mencari tempat teduh?
Ah..mana kau dengar, kau terlampau menutupi diri di balik jendela
Jika kau melihat coretan ini, bacalah baik-baik
---
Untukmu tersayang,
Hari ini turun hujan di Makassar
Aku senang kau masih di balik jendela
setidaknya aku tak perlu khawatir dirimu terkena hujan
Aku tahu kau pasti takkan tersenyum membaca ini
sebab pilihan kataku tetap sama
tak ada majas berlebihan, apalagi rentetan syair yang mengandung ribuan makna
ini hanya sepenggal kata
yang lahir saat hujan tiba
kau tahu mengapa hujan menjatuhi bumi?
tidakkah kau khawatir derasnya hujan dapat menenggelamkan,
seperti itu rasaku yang menggantung antara rindu dan .... benci
Rindu menyapamu di balik jendela yang tak pernah sampai
benci kepadamu karena aku telah rindu
biarkan hujan menyamarkan rindu dan benci itu
biarkan ia turun sederas mungkin
dariku : yang diguyur hujan Makassar
Home / All post
To Keep In Touch with Edelweiss
Hello, apa kabar? Semoga selalu sehat wal'afiat yah teman-teman.
Terima kasih sudah berkunjung di blog saya yang masih cupu' ini.
Bermula dari kesenangan merekam jejak-jejak peristiwa yang dianggap momen penting dalam hidup, saya membuat blog ini di awal September 2016. Masih baru kan? hehe... Mengabadikan momen tidak hanya melalui selfi-selfi menggunakan ponsel maupun kamera, akan tetapi tanpa itupun kita bisa mengabadikannya. Tulisan!
Yah hobby menulis sepertinya sudah berjangkit dalam diriku sejak terinspirasi oleh novel Andrea Hirata saat SMA dulu, sayangnya hobby ini sempat terbengkalai beberapa tahun terakhir. Karena inisiatif dan juga terinspirasi oleh bang Tere Liye di salah satu seminar yang kemarin kuhadiri, akhirnya aku bertekad mengabadikan momen-momen tentang dunia buku di blog ini.
Kesenangan membaca dan menulis terasa sekali khususnya bagi saya yang introvert. Bisa dibayangkan how boring my life without book? well, meski introvert, saya tipe orang yang suka berbagi cerita. So, im trying to be welcome to everybody.
Oh iya, nama saya Ainhy Edelweiss. Berdomisili di Makassar, kota Daeng. Membaca adalah hobby yang sangat menyenangkan, apalagi membaca genre favorit saya, romance, fantacy, adventure, true story, and inspiratif story.
I think thats enough about me.
Menerima kerjasama dalam bentuk Giveaway, Kuis Buku, promosi launching buku bagi penerbit dan juga penulis melalui akun sosial media saya khususnya di blog.
Contact:
Email : nuraeniamir7@gmail.com
Twitter: @PrinceesAsuna
Sayang, Aku di balik Jeruji
Aku berburu pada waktu
saat ingin kukejar senja, tak bisa kugapainya dalam remang
duduk tertunduk di balik jeruji
saat igin merasakan tetes embun di setiap lengkungan dedaunan
aku mendekam, bersesak-sesak bersama manusia-manusia tervonis
aku ingin mendengar suara jangkrik, tapi sayang
hanya suara dengkuran berisik dibalik jeruji
tak ada lagi air mata, ia sudah mengering
Sayang, aku di balik jeruji
masih sudikah kau bertatap muka?
meski rindu menyesaki dada, ia sama saja dengan diriku
tertahan, tak terkatakan, mendekam bersama rindu
---------
picture taken by google
22 Sept_16
Review: peREmpuan
"Katamu cinta tidak akan membuat orang sekarat.
Betul, aku tak sekarat.
Melainkan mati menanggung semuanya seorang diri.
Aku seperti gelas kopi yang dihidu aroma wanginya,
dicecap semua isinya.
Tak cuma ditinggalkan setelah kosong.
Tapi dibanting dan hancur berkeping-keping."
Judul: peREmpuan
Prnulis: Maman Suherman
Penerbit: KPG
Tebal: vi+189
ISBN: 978-602-6208-32-3
Cetakan 1: Mei, 2016
Dibaca melalui app SCOOP
#31HariBerbagiBacaan (Reading Challenge)
Dua puluh enam tahun setelah kematin Re:, Melur kembali ke tanah air dengan gelar PhD tersandang di belakang namanya.
Sejumlah tanya ia bawa pulang: siapa sebenarnya ibu kandungnya? betulkah ibunya diperjualbelikan, dipaksa menjadi pelacur lesbian? Apa penyebab kematian ibunya yang teramat tragis itu?
Herman menyambut kedatangan Melur dengan risau. Haruskah rahasia yang ia pendam lebih dari seperempat abad itu diungkap? Tidakkah hal itu memicu Melur untuk balas dendam?
Mengapa buku kehidupan perempuan harus sarat seloka luka?
***
Novel "peREmpuan" merupakan kelanjutan dari novel pertama yang ditulis oleh Maman Suherman, "RE:". Dalam novel ini, mengungkap kisah lain yang tidak dibahas dalam novel pertama. Adalah Melur, seorang perempuan yang menyandang gelar Phd di Tokyo, Jepang. Melur tidak pernah tahu siapa ibu kandungnya yang sebenarnya. Hal itulah yang membuat gusar Maman, menyembunyikan identitas ibu kandung Melur adalah amanah yang harus dijaga baik-baik. Dia tak ingin mengingkari amanah dari seorang wanita yang dicintainya di masa lalu, pun tidak ingin melihat sedih Melur. Akan tetapi, jauh di luar dugaan Maman, Melur mengetahui siapa ibu kandungnya.
\Banyak orang yang berfikir bahwa buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Memang itu benar, namun tak semua hal jelek dari orangtua bisa memberikan kesimpulan bahwa anaknya pun akan seperti itu. Buktinya Melur. Novel ini tidak hanya mengungkap sisi lain kehidupan seorang pelacur, akan tetapi memberikan pesan kepada kita bahwa semua orang berhak menjadi yang terbaik. Hal yang paling menarik bagiku dalam novel ini adalah kisah Melur, bagaimana reaksinya saat mengetahui ibunya yang sebenarnya, dan bagaimana ia mencari sendiri identitas ibunya. Lalu bagaimana dengan Maman harus menjawab pertanyaan Melur? tidakkah itu juga akan menyakiti perasaannya, mengingat kembali Re:, sosok perempuan malang yang pernah singgah di hatinya?
"Apakah di dunia ini semua pertanyaan wajib dijawab? Dan, apakah seseorang punya kemampuan untuk berlari tanpa henti dari sesuatu yang tak diinginkannya? hal. 55
Karena menggunakan sudut pandang pertama, novel ini seakan membawa pembaca terlibat ke dalamnya, ada beberapa adegan yang menurutku sangat memengaruhi emosional pembaca. Bagaimana saat Mami Lani, seorang germo pelacur lesbian yang tanpa ampun membunuh para wanita yang bekerja dengannya jika ingin berhenti. Sisi ini juga secara tak langsung memberikan pandangan lain terhadap kehidupan pelacur. Adegan lain yang menguras emosiku sebagai pembaca, yaitu saat Re; menyerahkan Melur kepada Bu Marlina saat masih bayi. Lalu bagaimana perasaan Re; saat Melur memanggilnya,"tante?". Melur dewasa yang tiba-tiba menyebut nama Re; sebagai ibu di hadapan Maman. Maman yang sudah lama menutupi rahasia ini, bagaimana mungkin Melur bisa tahu?
"Doa saya tak pantas untuknya, meski saya tidak yakin doa pelacur didengar oleh Tuhan. Tapi setidaknya Tuhan tahu ini doa seorang ibu kepada anaknya. Bukan semata doa seorang pelacur. Doa seorang ibu."
oiya buku ini recomended dibaca khusus 18+ ke atas yah. Secara kesulurahan novel ini sangat menarik untuk dibaca, menggunakan bahasa ringan dan mudah dimengerti meskipun penulis beberapa kali menggunakan majas yang terasa berlebihan, tetapi justru menambah daya tarik kisah dalam novel ini. Sesekali penulis juga menyindir ketidakpedulian pihak berwenang yang tidak mau ambil pusing terhadap kasus yang dianggapnya bukan berasal dari orang berkelas. Miris memang, membaca novel ini aku terbayang seperti apa sosok Melur dan bagaimana perasaan dia saat mengetahui identitas ibunya yang sebenarnya? Apa iya Melur yang sekarang sudah dewasa dan cantik cerdas pula akan membalas dendam?
"Kebenaran,
seperti halya keadilan,
adalah sebuah cermin di tangan Tuhan
yang jatuh ke bumi, dan pecah berkeping-keping.
Setiap orang berebut memungut serpihannya,
memperhatikannya dengan seksama,
lalu berfikir telah menemukan
kebenaran yang adil,
keadilan yang benar.
Aku dan Melur
sepertinya memegang serpihan yang berbeda." hal. 86
--------------
Typo detected
dibicarkan= dibicarakan (hal.133)
KAU KOPI
Pada kopi yang kuhirup aromanya
Apakah kau merasa sesal saat kunikmati aromamu?
Semua orang termasuk diriku berlomba-lomba
Memberimu definisi, apa kau tau?
Kau adalah makna kehidupan, begitu katanya
Filosofimu ada dimana-mana
Namamu selalu tersebut dalam syair dan puisi
Kau mampu memberi rasa pada mereka yang jenuh, sesal, apalagi
bahagia
Kau bahkan tak marah jika kami meramu bentuk aslimu ke
macam-macam hal
Masihkah kau diam? Mempertahankan setia pada malam suntuk
bersama kami, aku, dia, dan mereka.
Para penikmat, para pencandu.
----------------
22 Sept_16
Aku Benci Angka 2!
"Setiap yang dibenci memiliki jejak masa lalu yang suram. Apakah kau membencinya karena hal itu menyakitimu, ataukah dia mengingatkanmu kembali pada ingatan yang kau benci."
------------------
Dua puluh menit lagi tepat jam delapan malam. Angkot yang ditunggu tak kunjung lewat di perempatan jalan menuju rumah gadis itu. Jika saja nomor angkot yang ditunggu bukan angka dua, dia dengan senang hati menunggu lebih lama. Tapi, tak ada pilihan lain bagi gadis itu selain menunggu angkot bernomer dua melintas melalui jalan itu.
Hiruk piruk jalan raya di Makassar akan berlangsung sampai dini hari. Semuanya sibuk berlalu-lalang memadati jalan-jalan raya ataupun gang-gang sempit demi tujuan masing-masing. Kota yang sekarang sudah mirip kemacetannya dengan ibu kota Jakarta, membuat siapa saja merasa jengkel jika sudah disesaki kemacetan.
Gadis remaja itu masih berusaha menahan kesabarannya. Buku catatan mini serta pulpen ditentengnya tanpa tas. Dia memang tak mau repot bawa tas jika hanya mengikuti komunitas bahasa di kota itu.Kebanyakan remaja seusianya dan kebanyakan anak kuliahan hadir di komunitas itu. Mereka berdiskusi, saling bertukar pikiran menggunakan bahasa inggris.
Beruntung gadis itu bisa mengikuti komunitas bahasa dengan gratis. Dia tak perlu lagi khawatir dengan biaya untuk belajar bahasa, apalagi mengikuti kursus. Baginya, cara ini lebih efektif untuk mengembangkan kemampuan bahasanya, selain demi berhemat.
Di Makassar, ada beberapa jenis tansportasi umum. Ada bentor, tranportasi jenis ini merupakan revolusi dari becak. Bedanya, becak masih memakai sepeda untuk mengayuh sementara bentor memakai motor, sesuai namanya, bentor (becak dan motor). Ada lagi jenis transportasi lain seperti angkot, semaca,m mobil kendaraan umum, biasanya disebut pete-pete'. Bus juga ada di Makassar. Sayangnya, jumlah bus hanya hitungan jari, meski bus ada di Makassar, tapi dia belum eksis, jalur yang dilalui pun masih jalur-jalur tertentu. Dan sialnya, bus tidak melewati jalur dimana gadis itu butuh tumpangan. Seiring berkembangnya teknologi, muncul transportasi lain, misal Gojek. Transportasi ini yang paling mudah dan praktis di dapat. Tapi bagi gadis itu, dia ogah naik gojek. mengingat uang yang dimiliki pas-pasan, jangan harap mau naik gojek apalagi taksi.
Gadis itu beringsut, mundur beberapa langkah, dia hampir diserempet motor.
"mana nih pete-pete'nya, lama banget." gadis itu tak berhenti menoleh ke arah datangnya pete-pete'. Dari semua tranportasi umum di atas, hanya pete-pete' pilihan gadis remaja itu. Cukup aman, meski terkadang merasa sesak jika banyak penumpang, asal bisa menghemat biaya. Begitu pikirnya.
Yang ditunggu akhirnya datang. Pete-pete' bernomer dua muncul juga. Gadis remaja itu sumringah, setidaknya dia takkan menunggu lebih lama lagi. Pete-pete' ini lumayan jarang lewat di jalur menuju rumah gadis itu. Butuh kesabaran. Apalagi, gadis itu harus lebih menabahkan hatinya, dia memang tampak sumringah jika pete-pete' yang ditunggu datang, namun mata yang tak bisa menghindarkan pandangannya ke angka nomer pete-pete' itu membuat hatinya kembali terluka. Meski sudah lama gadis itu mencoba jatuh cinta pada nomer dua, tetap saja, pedih yang dulunya dia simpan rapat-rapat kembali mencuat, perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Hanya sakit dan kenangan masa lalu yang ada dipikirannya. "Kenapa pula angka dua!" dia memaki hatinya yang susah diajak akur.
***
"Akuilah Mar, kau pernah berselingkuh kan!" seorang lelaki paruh baya memandangi istrinya dengan mata nyalang.
"maksud kamu apa Mas, jangan ungkit-ungkit masa lalu. Nggak baik, suaramu itu tolong kecilkan, aku nggak mau Riri mendengar amukanmu." matanya berkaca-kaca. Ucapan Mas Danar, suaminya sangat menusuk perasaan wanita yang masih terlihat muda itu. Mereka bukan asli Makassar, keduanya asli Jawa yang pindah di Makassar sebulan setelah pernikahannya.
"Lalu kenapa kamu baru hamil dua tahun setelah pernikahan kita? aku ragu kalau dia anakku."
Tak sanggup lagi wanita itu menahan air matanya. Suara tangisnya pecah. Tujuh tahun telah berlalu. Mas Danar kembali mengungkit tentang kelahiran anak sulungnya. Dia memang tidak ragu akan anak sulungnya, namun sifat cemburu yang berlebihan seketika membuatnya lepas kendali terhadap istrinya.
Namanya Rani. Dia menikah tujuh tahun lalu dengan Mas Danar, pernikahan mereka bisa dibilang sangat harmonis, awal-awal pernikahan tak ada masalah apapun. Namun, kedatangan sang buah hati sedikit mengusik kebersamaan mereka. Dua tahun penantian, yang menurut keluarga mereka masih normal. Tapi tidak dengan Danar. Ia tak sabar menimang buah hatinya. Meski begitu, rasa cintanya pada Rani sangat besar. Tak pernah ia ungkit kehamilan istrinya. Hanya satu yang tak bisa Danar ubah dari dirinya, rasa cemburu yang sangat berlebihan. Dia bahkan melarang Rani bekerja. Sekali melihat Rani mengobrol dengan temannya semasa kuliah yang kebetulan lewat, seketika itu Danar akan marah kepada Rani.
Dua tahun telah berlalu di usia pernikahan mereka, buah hati yang ditunggu hadir sebagai anugrah. Rani lah yang paling bahagia. Dia tak hanya menjadi seorang ibu, namun kini dia tak lagi merasa kesepian di rumah jika Danar sedang bekerja di luar. Danar pun begitu, ia sangat bahagia. Hanya satu yang tak bisa diusik oleh hatinya. Keraguan.
Sewaktu-waktu Danar akan melampiaskan kecemburuannya pada Rani. Menanyai kesetiaan Rani. Dan yang paling menyakiti Rani adalah anaknya. Namaun, ia wanita yang tabah. Tak seharusnya Danar mempertanyakan kesetiannya. Bagi lelaki manapun, akan mengidamkan istri seperti Rani. Dengan sabar ia menunggu kepulangan suaminya sepulang kerja, ia juga telaten memasak di dapur, mengganti-ganti menu agar suaminya tidak pernah bosan. Jangan tanyakan kesetiannya. Riri sang buah hati adalah anak Danar. Tak pantas wanita itu digugat. Sebagai wanita yang memiliki hati tabah, maka tak ada perlawanan berarti jika suaminya marah. Hanya ada air mata.
"Rani, please kamu jangan nangis. Maaf jika aku marah. Aku sudah berjanji tidak mengungkit hal itu. Maaf aku tak tega melihatmu mengobrol lama dengan lelaki lain."
Rani hanya mengangguk lemah. Ia tahu dan sudah menebak. Danar akan segera meminta maaf jika sudah melihat Rani menangis. Kecemburuannya memang sudah tak seperti tahun-tahun kemarin. Rani paham dan tahu diri. Kali ini dia merasa sedikit bersalah. Danar hanya salah paham. Dia tak tahu jika lelaki yang mengantar Rani pulang ke rumah adalah kerabat jauhnya yang baru datang dari Malaysia. Barulah Danar meredam emosinya. Setelah meilhat Rani menangis sembari menjelaskan siapa lelaki itu. Ada gurat penyesalan di wajah Danar telah mengungki-ungkit kembali masa lalu.
"Ran, mana Riza si kecil? aku mau gendong dia. sekali lagi maaf yah sayang. aku tak bermaksud..."
"Riza ada di dalam Mas." jawab Rani dengan senyum getir. Dia sudah memiliki seribu argumen untuk diungkapkan kepada suaminya, namun ia urung.
Danar dan Rani menuju kamar mungil anak mereka yang kedua. Setelah kehadiran anak laki-laki di keluarga mereka, setidaknya mengurangi sikap kecemburuan Danar pada istrinya. Di keheningan itu, Danar tidak menyadari, di balik dinding ruangan saat mereka berdebat, Riri mendengar semua. Bentakan ayahnya kepada ibunya, juga tuduhannya yang meskipun Riri masih kecil, dia sudah memahami perkataan ayahnya. Entah untuk pertama kalinya, Riri menangis di balik dinding itu. Pertanyaan yang sering hadir dalam benaknya akhirnya terjawab juga. Kini ia sadar mengapa ayahnya jarang memperhatikan dia. Hanya Riza dan Riza. Perasaan benci pelan-pelan merasuki tubuhnya yang masih mungil. Andai saja dia bisa terlahir menjadi anak kedua, tapi tidak. Justru dia tidak menyukai angka itu. Urutan kelahiran yang membuat perhatian ayahnya telah direnggut.Angka dua yang selalu diistimewakan, menjadi nomor dua tak perlu lagi dicurigai kelahirannya, ibarat mengikuti sebuah tes, angka pertamalah yang selalu mendapat giliran, Ia benci, sangat membenci angka itu.
***
Gadis remaja yang bernama Riri itu menyodorkan uang sebesar lima ribu rupiah kepada supir pete-pete. Dia membenci nomor itu, tapi dia tak bisa menolak kehadiran angka dua. Dia juga tak mau menyimpan benci terlalu lama, perlahan-lahan dia belajar mencintai angka dua, yang belakangan ini angka dua berusaha menunjukkan perhatiannya ke Riri. Ibarat calon pasangan, ia mengejar-ngejar, sedikit merayu, dan jika perlu bersikukuh. Hanya pete-pete' angka dua yang bisa mengantar Riri ke tempat belajarnya yang lumayan jauh.
"Aku mungkin bisa belajar mencintai angka itu, saat dimana hanya angka itu yang selalu hadir di sekelilingku, tapi bagaimana dengan kenangan yang hadir sebagai bayangan di angka dua itu? Sebuah bayangan akan ingatan yang tak bisa kulupakan."
----------
(22 Sept_16)
Review : Best Friend Forever
Judul : Best Friend Forever
Penulis : Khansa Akifah
Cover design : Syarif Maulana
Editor : A. Latief
Penerbit : Zettu
Cetakan 1 : 2013
Tebal : 200 halaman
ISBN : 978-602-7735-88-0
#31HariBerbagiBacaan
Blurb :
Banyak hal mewarnai hidup kita, salah satu yang paling melekat adalah hadirnya sosok sahabat dalam hidup. Sahabat ibarat malaikat yang mengangkat kita untuk melihat dunia saat sayap kita bermasalah, sahabat pula yang akan mengingatkan kita bagaimana caranya terbang.
Namun, ingatkah kapan terakhir kamu berada dalam kesulitan? siapa yang berada di sampingmu? siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai? siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tidak bisa memberikan apa-apa? sahabat sejati akan selalu ada, tak peduli seberapa besarnya masalah yang kuu hadapi, ia akan selalu ada untukmu.
Penulis : Khansa Akifah
Cover design : Syarif Maulana
Editor : A. Latief
Penerbit : Zettu
Cetakan 1 : 2013
Tebal : 200 halaman
ISBN : 978-602-7735-88-0
#31HariBerbagiBacaan
Blurb :
Banyak hal mewarnai hidup kita, salah satu yang paling melekat adalah hadirnya sosok sahabat dalam hidup. Sahabat ibarat malaikat yang mengangkat kita untuk melihat dunia saat sayap kita bermasalah, sahabat pula yang akan mengingatkan kita bagaimana caranya terbang.
Namun, ingatkah kapan terakhir kamu berada dalam kesulitan? siapa yang berada di sampingmu? siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai? siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tidak bisa memberikan apa-apa? sahabat sejati akan selalu ada, tak peduli seberapa besarnya masalah yang kuu hadapi, ia akan selalu ada untukmu.
***
"Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri." hal. 13
Kesan pertama saat melihat buku ini, aku mengira bukunya tentang novel persahabatan yang diangkat dari kisah nyata. Setelah membaca beberapa halaman awal, aku salah mengira. Well, buku ini berisi beberapa cerpen dan quote yang sangat menarik khususnya bagi persahabatan.
Salah satu kisah yang sempat membuat aku baper di hal. 43 yaitu kisah Wira dan Momon. Keduanya merupakan sahabat yang sama-sama duduk di bangku SD. Status mereka sangat jauh berbeda. Wira adalah siswa yang berasal dari keluarga terpandang, sementara Momon hanya siswa yang berasal dari keluarga sederhana, bahkan tergolong sangat sederhana. Suatu hari, Momon tidak lagi muncul di sekolah, awalnya Wira mengira Momon sakit, akan tetapi berminggu-minggu Momon tak kunjung datang di sekolah. Sebagai sahabat terdekat Momon, Wira berinisiatif untuk menjenguk Momon, Wira pun tak segan untuk meminta bantuan ayahnya. Meski Wira orang kaya, ia dikenal sangat dermawan dan nggak pernah pamrih terutama kepada sahabatnya. Wira mendapati Momon dalam keadaan yang kurang baik. Momon tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya karena faktor ekonomi keluarganya, mendengar itu, Wira tak segan-segan menawarkan bantuan kepada Momon. Ayahnya mendukungnya. Awalnya Momon menolak tawaran sahabatnya, namun karena niat tulus dan kesungguhan Wira akhirnya Momon menyambut tawaran baik sahabatnya dengan perasaan bahagia.
"Persahabatan tidak dibedakan dengan status sosial, kulit ataupun usia. Maka pahamilah arti sahabat sesungguhnya, maka akan mendapatkan ketenangan batin untuk memulai sesuatu yang indah, yaitu persahabatan." hal. 43
Bahasa yang digunakan buku ini sangat ringan, sangat cocok dibaca disela-sela waktu senggang, apalagi bagi pembaca khusus remaja. aku rekomendasikan buku ini untuk dibaca. Selain karena kisah-kisah yang ada dalam buku tersebut ringan dan mudah dipahami, ada banyak pesan moral tentang persahabatan.
"cuaca bisa datang dan pergi, tetapi persahabatan tetap harus dijaga" hal. 49
Setuju nggak jika menemukan seorang sahabat ibarat mencari jarum ditumpukan jerami? Nah buku ini memuat kisah persahabatan yang bakal buat kita iri. Tapi, ada juga loh tips-tips dan motivasi bagaimana menjadi sahabat yang baik. Seperti kisah 3 idiot dalam film hollywood juga mengulas persahabatan mereka di buku ini.
"Berprasangka buruk tak akan membuat masalah menjadi lebih baik. Tapi berfikir positif akan memperkuat persahabatan yang telah terjalin menjadi lebih baik." hal. 97
Sebagai pembaca yang menyukai dramatic genre, aku kurang puas dengan sebagian kisah-kisah dalam buku ini. Alur yang ada juga terasa cepat selesai dan kurang mengulas sisi-sisi kehidupan persahabatan antar satu tokoh dengan yang lain. Namun, secara keseluruhan buku ini bagus untuk dibaca khususnya bagi kamu yang menghargai persahabatan.
"Friendship or relationship will fail if its only one person trying hard to keep it together" hal. 166
Salam sahabat, selamat membaca :)
Jawaban
Sebelum melangkah, aku bertanya
Mengapa langit biru berubah menjadi jingga saat senja?
Mengapa langit biru berubah menjadi jingga saat senja?
Sebelum kupulang, aku bertanya
Mengapa bulan tak memesona tanpa bintang-bintang?
Mengapa bulan tak memesona tanpa bintang-bintang?
Saat aku duduk, aku menunggu jawaban
Semua bergeming, hening
Lalu kau datang di saat semua pertanyaan belum ada jawaban
Semua bergeming, hening
Lalu kau datang di saat semua pertanyaan belum ada jawaban
Untuk apa menanyaiku yang sedang bingung?
Katamu sebelum beranjak
"Jawabannya ada dalam dirimu"
"Jawabannya ada dalam dirimu"
Bukannya aku mengerti, malah aku semakin bertanya
"Mengapa diriku? "
"Mengapa diriku? "
Review : Dead by Midnight
Judul Buku : Dead By Midnight
Penulis : Beverly Barton
Penerjemah : R. Tantie Kustiantie
Penyunting : Yudi Iswanto
Genre : Romantic suspence
Tebal : 534 Halaman
Novel dewasa
Terbitan : Zebra Books, New York
Hak Cipta Terjemahan Bahasa Indonesia 2011 Dastan Books
Cetakan 1, Desember 2011
#31HariBerbagiBacaan
Sinopsis :
Sejak kegagalannya sebagai bintang di Hollywood, Lorie Hammonds kembali ke kota kelahirannya, Dunmore, Alabama, dan memulai kehidupan yang baru. Tapi serangkaian ancaman pembunuhan memperingatkan Lorie untuk berdoa, karena ajal untuk menebus dosanya akan segera tiba. Lalu satu per satu Midnight Masquerade mulai terbunuh. Mereka ditembak berkali-kali, ditelanjangi, dan dipakaian topeng berhias.
***
"Anda tidak tahu bagaimana rasanya melihat tubuh isteri sudah tidak bernyawa berbaring dalam genangan darahnya sendiri... Mengetahui bahwa dia menderita" hal. 49
Lorie Hammonds adalah seorang gadis muda yang memiliki impian untuk menjadi artis terkenal dan dan menjadi bintang Hollywood. Obsesinya yang tinggi membuat Lorie harus meninggalkan tempat kelahirannya, Dunmore menuju Los Angeles. Nasib yang ia pertaruhkan berakhir sia-sia. Ia memiliki masa lalu yang sangat buruk. Midnight masquerade adalah judul film dewasa yang melibatkan sepuluh pemeran termasuk Lorie. Membuat reputasi Lorie dipandang rendah di tempat asalnya. Tak hanya kedua orangtuanya yang tidak lagi menerima Lorie, akan tetapi mantan kekasih Lorie, Mike Birkett memendam gejolak amarah di hatinya setelah ditinggalkan oleh Lorie demi obsesinya menjadi artis.
"Tengah malam tiba. Panjatkan doamu. Memohon ampun.Bereskan urusanmu. Kau masuk dalam daftar. Bersiaplah. Kau tidak tahu kapan giliranmu. Apakah kau akan mati berikutnya?" hal. 53
Penulis sangat lihai menyembunyikan identitas pelaku midnight masquerade. Membacanya, akan membuat pembaca sangat penasaran. Teror inilah yang digunakan oleh pelaku untuk mengirim surat kepada incarannya. Kasus yang kemudian ditangani oleh Powell Agency. Matinya ketiga korban pertama, Hillary Flinch, Dean Wilson (mantan Lorie di LA), dan Charles Wong membuat Mike tak lagi hanya sekedar sheriff yang melindungi warganya, namun Mike sadar, jika Lorie mantan kekasihnya yang diam-diam masih dicintainya berada dalam ancaman pembunuhan.
"Kalau sudah kejadian, memang gampang mengkritik. Nasi sudah jadi bubur tidak ada gunanya menyesali. Apa yang sudah berlalu, biarlah berlalu." hal. 364
Sudut pandang dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga yang serba tahu yang menarik untuk dibaca karena melibatkan kasus pembunuhan, sangat intrik dan tidak mudah menebak siapa pelakunya. Kehadiran tokoh-tokoh lain yang turut membuat novel ini menarik adalah sahabat Lorie, Cathy dan Jack. Cathy adalah sahabat Lorie yang menjadi alasan kenapa Lorie kembali ke Dunmore.
Namun, ancaman pembunuhan mengintai Lorie. Awalnya aku mengira pelaku yang sebenarnya adalah Mr. Ransom owens yang berperan sebagai sebagai sutradara film midnight masquerande.
Aku sangat suka dengan kisah romance dalam novel ini, dimana Mike Birkett yang merupakan mantan kekasih Lorie harus melindunginya dari ancaman pembunuhan. Karena profesinya sebagai sheriff mengharuskan ia bersikap profesional. Akan tetapi, Mike tak dapat menyangkal perasaan yang masih tersimpan di lubuk hatinya. Sementara itu, dia sudah memiliki dua anak, Hannah dan M.J. Isteri Mike, Molly sudah lama meninggal. Saat dimana Mike membutuhkan ibu pengganti untuk anak-anaknya, ia bertemu dengan Lorie Hammonds. Mantan kekasih yang memiliki masa lalu yang suram, ancaman pembunuhan yang mengerikan. Namun, disaat yang sama, Mike dihadapkan pada situasi yang rumit. Akankah Mike tetap memilih Abby Sherman sebagai istrinya kelak, ataukah kehadiran Lorie yang harus dia lindungi akan membangkitkan kenangannya di masa lalu?
"Semua waktu yang telah kau sia-siakan sebagian karena salahku. Aku tidak bisa berhenti menghukummu. Aku seharusnya bisa menjadi teman bagimu" hal. 407
Sebagai pembaca, kita akan dihadapkan kehadiran banyak tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, para pemeran film midnight masquerade, si misterius midnight killer, agen Powel Agency, Maleah dan Derek yang juga terlibat kisah asmara. Banyaknya tokoh yang terlibat, mungkin membuat pembaca bingung yang menjadi kekurangan dalam novel ini.
Namun, keseluruhan novel ini sangat menarik untuk dibaca terlebih lagi dengan ending *happy dan menyisakan rasa penasaran kepada pembaca.
Oiya ada juga lo kasus pembunuhan oleh Agen Powell Agency yang berakhir secara mengerikan. Akankah agen Maleah yang bekerja sama dengan Derek Lawrence mampu bekerja sama dan menemukan pelaku yang sebenarnya?
selamat membaca :)
22 for Mawar
Gerimis hujan malam ini tak sedikitpun menghentikan langkahku menuju suatu tempat. Kepergiannya menyulut kesedihan yang mendalam di hatiku. .
***
"Mawar, bisa kan kamu keluar malam ini bareng kita? Sekali-kali karaokean dong, jangan di rumah terus. Baca buku terus. Kamu nggak bosan emang? Ayolah... teman-teman nunggu tuh di luar."
Calissa menungguku dengan harap. Ajakannya memang sedikit menggiurkan. Apalagi dia yang traktir semua anak-anak di kos. Aku dan ke empat teman-temanku yang lain. Aku tak bermaksud membuatnya kecewa, aku hanya tidak dalam suasana hati yang baik.
"Maaf Lis, aku nggak bisa ikut kalian..."
Belum selesai mengutarakan alasanku, Calissa pergi tanpa kata. Sepertinya dia sudah hafal betul sifatku yang satu ini. Keras kepala. Mau bagaimanapun cara dia mengajak, jika aku sudah menolak maka tak ada cara untuk membujukku.
"Maafkan aku Lis, kali ini masalah yang kuhadapi berat. Aku nggak mungkin pergi bersenang-senang sementara hatiku menangis." Gumamku dalam hati.
***
Kamu boleh menolak ajakanku mawar, tapi tidak dengan melihatmu memendam sendiri masalahmu. Kau harus cerita padaku. Nggak boleh tidak. Tunggu sampai aku pulang. oky
Dua puluh menit kemudian pesan singkat dari Calissa masuk di message whatsupku. Aku hanya menghela nafas beberapa saat. Kali ini aku memilih menghibur diriku dengan berdiam diri di teras rumah kontrakan. Aku sangat menyukai tempat ini jika tak ada siapa-siapa. Semuanya hening.
Pukul 22.42
Sambil mendengar musik, ingatanku melayang tujuh tahun lalu. Awan hitam dan pekat menciptakan gerimis hujan yang perlahan-lahan menderas. Aku tak bisa melihat bintang-bintang malam ini. Sekali saja, aku ingin memandangi bintang-bintang saat aku sedih. Malam ini terasa panjang bagiku. Aku berharap waktu akan berhenti, berharap hari esok akan tiba seratus hari lagi. Tuhan, jika kau ijinkan aku ingin kembali ke masa lalu. Masa lalu yang kubenci namun kurindukan. Sebentar lagi jam 12.00 ada takut, kecewa, sedih, dan bahagia.
Aku bahagia karena Dia masih memberiku kesempatan untuk menghirup nafas lega meskipun terasa sesak sejak tujuh tahun lalu. Aku kecewa, sedih dan takut karena belum menerima kenyataan bahwa aku benar-benar kehilangan. Dan, ingatan itu kembali mengenang setiap serpihan masa lalu.
***
Menjelang ujian nasional tingkat SMP, aku terpaksa berhenti mengikuti les pelajaran tambahan. Tatapan mata para tetangga di kampung membuatku terintimidasi. Belum lagi gunjingan yang bertebaran sana sini. Nama ayahku seketika populer di kampungku. Ibarat seorang artis yang baru saja naik daun karena popularitas namun, seketika jatuh akibat fitnah yang tersebar begitu saja.
Aku yang masih remaja lima belas tahun, tentu mengerti persoalan ayahku. Bahkan setelah tahu, aku tetap membela ayahku. Dia ayah yang baik, ayah yang bertanggung jawab pada keluarganya, dia bahkan rela bekerja hingga petang hari demi keluarganya. Belakangan ini, ayah sering di panggil oleh warga di kampungku. Bermula dari mengimami shalat di masjid, lalu mengisi ceramah di hari jumat, ayah yang memang mempelajari ilmu agama dan selalu menghafal alquran tentu saja diberi kepercayaan oleh warga di kampung untuk mejadi imam mesjid. Sejak saat itu, banyak warga yang datang silih berganti ke rumah. Entah itu diminta untuk menjadi guru mengaji, menghadiri syukuran, memotong hewan qurban, bahkan menjadi penghulu. Seperti itulah di kampungku. Karena banyak pemuda meninggalkan kampung halaman setelah beranjak dewasa, akibatnya tak ada yang bisa dijadikan pengganti imam masjid jika tidak hadir secara tiba-tiba.
Karena berpindahnya imam masjid yang lama ke kota, maka ayah diamanahkan untuk mengganti posisinya. Jabatan itu di kampungku, sangat prestise. Entah bagaimana cara pandang warga di kampungku, seperti itulah aku memahaminya saat itu.
Bagaimana mungkin ayahku dituduh melecehkan seorang wanita?!
Kabar yang kudengar dari gunjingan para tetangga ibarat petir yang menyambar-nyambar. Aku tentu saja dilanda berbagai pertanyaaan. Namun, aku tahu, orang yang paling khwatir lebih dari aku adalah ibuku. Aku tak melihat guratan kekecewaan di mata ibuku saat melihat ayah. Ibu malah mendekap ayahku. Aku tak menyangka ibu setegar itu. Apakah sebesar itu rasa kepercayaan ibu?
Karena rasa penasaranku yang hebat, aku berhenti mengikuti les. Ayah dan ibu sibuk berbicara dengan pengacara. Aku mendengar mereka berbincang di ruang tamu. Dan yang membuatku terheran adalah kejadian itu sudah dua bulan yang lalu.
Jika dia merasa dilecehkan dua bulan yang lalu, kenapa pula baru melapor? itupun menyebarkan fitnah di seluruh kampung. Aku mendengar seksama ayah menjelaskan detail peristiwa itu.
Ayah sama sekali tidak punya kedekatan dengan wanita itu. Justru dia hanya kenal dengan ibu. Memang dua bulan terakhir dia sempat datang ke rumah dengan beberapa alasan. Namun, tak pernah sama sekali berkomunikasi dengan ayahku. Terakhir dia datang di rumah malam itu. Dia membawa beberapa makanan sebagai ungkapan terima kasihnya karena aku sudah membantu anaknya di sekolah tempo hari lalu. Saat itu sudah jam delapan malam, ibu khawatir dengan teman wanitanya itu jika pulang sendirian. Akhirnya ibu menyuruh ayah mengantar wanita itu.
Dan kau tahu? wanita itu mengambil dalih dengan beralasan bahwa malam itu ayah melakukan pelecehan padanya. Aku sangat geram melihat kabar itu. Jelas-jelas itu fitnah. Karena pada saat itu, aku tak sengaja mengikuti ayah dari belakang. Entah kenapa, naluriku mengatakan aku harus mengikuti ayah. Aku tak bisa tenang setelah tak sengaja menangkap tatapan matanya yang aneh pada ibu saat dia pergi.
Rumahnya tak jauh dari rumah, hanya sekitar 500 kilometer. Di kampungku akan terasa sangat sunyi jika malam tiba, saat itu rumah warga di kampung belum banyak.
Pengacara itu mendengar ayahku bercerita. Namun, ada satu hal yang ayah lupa. Ia tidak menyadari bahwa aku telah mengikutinya dari belakang. Cerita ayahku memang persis kejadian malam itu, dia tidak melakukan apa-apa. Malah, ayah berjalan tiga meter di belakang wanita itu. Itupun tanpa berbicara pada wanita itu. Meski agak samar karena beberapa kali harus bersembunyi di balik semak, wanita itu berhenti beberapa kali dan ingin berjalan beriringan dengan ayah. Tapi ayah menolaknya. Ayah hanya memberi isyarat agar dia terus berjalan.
"Masalahnya adalah bapak sama sekali tidak punya saksi. Kedua, persoalan ini jelas-jelas terasa ganjil, wanita itu melapor tanpa bukti ke polisi, itupun kejadiannya dua bulan yang lalu. Menurut kami, laporan seperti itu dianggap tidak relevan. Tapi, persoalan ini, meskipun bapak tidak dinyatakan bersalah, akan sangat sulit membersihkan nama baik bapak."
Aku menghela nafas. Rasanya lega mendengar ayah akan lolos terdakwa dalam kasus itu, akan tetapi soal nama baik ayah akan sangat susah dibersihkan. Meskipun ayah benar, reputasinya sudah hancur karena fitnah sialan itu. Aku berani bertaruh wanita itu hanya ingin merusak nama ayahku.
Sebulan lamanya ayah mengikuti proses persidangan. Sebulan lagi aku akan mengikuti ujian nasional. Ayah tidak berbukti bersalah di persidangan terakhir. Kami semua senang dan brsyukur saat itu. Aku masih ingat ekspresi wanita itu di dalam ruang sidang. Matanya seolah menyulut api amarah. Jika ayah mau, ayah bisa saja menuntut balik atas pencemaran nama baiknya kepada jaksa, tapi ayah tidak. Aku protes dalam hati. Wanita itu pantas mendapat denda atas pencemaran nama baik, kalau perlu dipenjara sekalian. Tapi ayah tidak. Ia hanya tersenyum lembut mendengar keputusan hakim dan mengajak kami semua puang. Saat kutanya ayah di perjalanan pulang, ayah hanya mengelus ubun-ubunku.
"Nak, jangan pernah isi hatimu dengan kejelekan-kejelekan, apalagi jika itu dendam. Ia ibarat batu dan pasir, semakin kau isi, semakin ia akan penuh. Jika toples penuh oleh pasir dan batu, apakah ada benda lain yang bisa mengisi toples yang penuh?"
aku hanya menggeleng tak mengerti.
"Toples yang penuh itu sama dengan hati yang dipenuhi kejelekan. Jika hatimu dipenuhi kejelekan, bagaimana mungkin kebaikan bisa mengisinya?"
"Tapi ayah... se..seharusnya... " aku manyun tak menerima perkataan ayah, yang baru kupahami beberapa tahun kemudian.
***
Setelah kasus yang menimpa ayahku, semuanya kembali berjalan normal. Aku mengira reputasi ayah akan hancur di mata warga. Namun, ayah bukannya dikucilkan karena fitnah itu di kampung, justru ayah semakin dihargai oleh warga kampung setelah terbukti ayah memang tidak bersalah. Lagipula, kebanyakan warga memang masih percaya dengan ayahku saat fitnah itu menyebar.
Aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Tak kusangka meski bolos mengikuti les, aku tetap bisa mengejar ketertinggalanku. Kupandangi ijasahku tiga bulan kemudian setelah acara penamatan. Kulihat foto ayah dan ibu merangkulku.
Hari itu, tepat 7 juli sehari setelah perayaan ulangtahunku ayah pergi untuk selama-lamanya.
Gerimis hujan malam ini tak sedikitpun menghentikan langkahku menuju
suatu tempat. Kepergiannya menyulut kesedihan yag mendalam di hatiku.
Kegembiraan yang kudapat tepat dihari ulangtahunku seketika lenyap. Berganti dengan kesedihan yang teramat sangat. Ayah... selamat tinggal...
***
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku sadar dari lamunanku, merambah pada sepotong kenangan tujuh tahun lalu. Kuraih ponselku yang terletak di atas kursi di sebelahku. Tepat pukul 12.01 seseorang mengirimiku pesan.
"Happy birthday Mawar, It's 22 in your age, stop to hide and keep your sadnees. You never have time to move if you can't take a peace with your memory in your past. Remember about a jar? Fill it with kindness. :) From someone who's always stand by your side. Jhon."
Aku hanya tersenyum membuka pesan itu. Dia benar. Aku telah mengisi tujuh tahun terakhir hidupku dengan duka yang teramat dalam. Saatnya membuang jauh-jauh isi toples itu. Menggantinya dengan sesuatu yang baru.
"Thanks chubby. It's 22 for Mawar.:)"
(16 Sept_2016)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Free "Care" Day








