Aku Benci Angka 2!


"Setiap yang dibenci memiliki jejak masa lalu yang suram. Apakah kau membencinya karena hal itu menyakitimu, ataukah dia mengingatkanmu kembali pada ingatan yang kau benci."
------------------

Sesekali gadis remaja itu melirik jam tangannya. Jika saja bukan suara deru mobil lalu lalang, beberapa orang yang juga duduk tak jauh dari tempat dia berdiri pasti mendengar suaranya yang mendengus kesal.

Dua puluh menit lagi tepat jam delapan malam. Angkot yang ditunggu tak kunjung lewat di perempatan jalan menuju rumah gadis itu. Jika saja nomor angkot yang ditunggu bukan angka dua, dia dengan senang hati menunggu lebih lama. Tapi, tak ada pilihan lain bagi gadis itu selain menunggu angkot bernomer dua melintas melalui jalan itu.

Hiruk piruk jalan raya di Makassar akan berlangsung sampai dini hari. Semuanya sibuk berlalu-lalang memadati jalan-jalan raya ataupun gang-gang sempit demi tujuan masing-masing. Kota yang sekarang sudah mirip kemacetannya dengan ibu kota Jakarta, membuat siapa saja merasa jengkel jika sudah disesaki kemacetan.

Gadis remaja itu masih berusaha menahan kesabarannya. Buku catatan mini serta pulpen ditentengnya tanpa tas. Dia memang tak mau repot bawa tas jika hanya mengikuti komunitas bahasa di kota itu.Kebanyakan remaja seusianya dan kebanyakan anak kuliahan hadir di komunitas itu. Mereka berdiskusi, saling bertukar pikiran menggunakan bahasa inggris.

Beruntung gadis itu bisa mengikuti komunitas bahasa dengan gratis. Dia tak perlu lagi khawatir dengan biaya untuk belajar bahasa, apalagi mengikuti kursus. Baginya, cara ini lebih efektif untuk mengembangkan kemampuan bahasanya, selain demi berhemat.

Di Makassar, ada beberapa jenis tansportasi umum. Ada bentor, tranportasi jenis ini merupakan revolusi dari becak. Bedanya, becak masih memakai sepeda untuk mengayuh sementara bentor memakai motor, sesuai namanya, bentor (becak dan motor). Ada lagi jenis transportasi lain seperti angkot, semaca,m mobil kendaraan umum, biasanya disebut pete-pete'. Bus juga ada di Makassar. Sayangnya, jumlah bus hanya hitungan jari, meski bus ada di Makassar, tapi dia belum eksis, jalur yang dilalui pun masih jalur-jalur tertentu. Dan sialnya, bus tidak melewati jalur dimana gadis itu butuh tumpangan. Seiring berkembangnya teknologi, muncul transportasi lain, misal Gojek. Transportasi ini yang paling mudah dan praktis di dapat. Tapi bagi gadis itu, dia ogah naik gojek. mengingat uang yang dimiliki pas-pasan, jangan harap mau naik gojek apalagi taksi.

Gadis itu beringsut, mundur beberapa langkah, dia hampir diserempet motor.

"mana nih pete-pete'nya, lama banget." gadis itu tak berhenti menoleh ke arah datangnya pete-pete'. Dari semua tranportasi umum di atas, hanya pete-pete' pilihan gadis remaja itu. Cukup aman, meski terkadang merasa sesak jika banyak penumpang, asal bisa menghemat biaya. Begitu pikirnya.

Yang ditunggu akhirnya datang. Pete-pete' bernomer dua muncul juga. Gadis remaja itu sumringah, setidaknya dia takkan menunggu lebih lama lagi. Pete-pete' ini lumayan jarang lewat di jalur menuju rumah gadis itu. Butuh kesabaran. Apalagi, gadis itu harus lebih menabahkan hatinya, dia memang tampak sumringah jika pete-pete' yang ditunggu datang, namun mata yang tak bisa menghindarkan pandangannya ke angka nomer pete-pete' itu membuat hatinya kembali terluka. Meski sudah lama gadis itu mencoba jatuh cinta pada nomer dua, tetap saja, pedih yang dulunya dia simpan rapat-rapat kembali mencuat, perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Hanya sakit dan kenangan masa lalu yang ada dipikirannya. "Kenapa pula angka dua!" dia memaki hatinya yang susah diajak akur.

                                                                           ***

"Akuilah Mar, kau pernah berselingkuh kan!" seorang lelaki paruh baya memandangi istrinya dengan mata nyalang.
"maksud kamu apa Mas, jangan ungkit-ungkit masa lalu. Nggak baik, suaramu itu tolong kecilkan, aku nggak mau Riri mendengar amukanmu." matanya berkaca-kaca. Ucapan Mas Danar, suaminya sangat menusuk perasaan wanita yang masih terlihat muda itu. Mereka bukan asli Makassar, keduanya asli Jawa yang pindah di Makassar sebulan setelah pernikahannya.

"Lalu kenapa kamu baru hamil dua tahun setelah pernikahan kita? aku ragu kalau dia anakku."
Tak sanggup lagi wanita itu menahan air matanya. Suara tangisnya pecah. Tujuh tahun telah berlalu. Mas Danar kembali mengungkit tentang kelahiran anak sulungnya. Dia memang tidak ragu akan anak sulungnya, namun sifat cemburu yang berlebihan seketika membuatnya lepas kendali terhadap istrinya.

Namanya Rani. Dia menikah tujuh tahun lalu dengan Mas Danar, pernikahan mereka bisa dibilang sangat harmonis, awal-awal pernikahan tak ada masalah apapun. Namun, kedatangan sang buah hati sedikit mengusik kebersamaan mereka. Dua tahun penantian, yang menurut keluarga mereka masih normal. Tapi tidak dengan Danar. Ia tak sabar menimang buah hatinya. Meski begitu, rasa cintanya pada Rani sangat besar. Tak pernah ia ungkit kehamilan istrinya. Hanya satu yang tak bisa Danar ubah dari dirinya, rasa cemburu yang sangat berlebihan. Dia bahkan melarang Rani bekerja. Sekali melihat Rani mengobrol dengan temannya semasa kuliah yang kebetulan lewat, seketika itu Danar akan marah kepada Rani.

Dua tahun telah berlalu di usia pernikahan mereka, buah hati yang ditunggu hadir sebagai anugrah. Rani lah yang paling bahagia. Dia tak hanya menjadi seorang ibu, namun kini dia tak lagi merasa kesepian di rumah jika Danar sedang bekerja di luar. Danar pun begitu, ia sangat bahagia. Hanya satu yang tak bisa diusik oleh hatinya. Keraguan.

Sewaktu-waktu Danar akan melampiaskan kecemburuannya pada Rani. Menanyai kesetiaan Rani. Dan yang paling menyakiti Rani adalah anaknya. Namaun, ia wanita yang tabah. Tak seharusnya Danar mempertanyakan kesetiannya. Bagi lelaki manapun, akan mengidamkan istri seperti Rani. Dengan sabar ia menunggu kepulangan suaminya sepulang kerja, ia juga telaten memasak di dapur, mengganti-ganti menu agar suaminya tidak pernah bosan. Jangan tanyakan kesetiannya. Riri sang buah hati adalah anak Danar. Tak pantas wanita itu digugat. Sebagai wanita yang memiliki hati tabah, maka tak ada perlawanan berarti jika suaminya marah. Hanya ada air mata.

"Rani, please kamu jangan nangis. Maaf  jika aku marah. Aku sudah berjanji tidak mengungkit hal itu. Maaf aku tak tega melihatmu mengobrol lama dengan lelaki lain."

 Rani hanya mengangguk lemah. Ia tahu dan sudah menebak. Danar akan segera meminta maaf jika sudah melihat Rani menangis. Kecemburuannya memang sudah tak seperti tahun-tahun kemarin. Rani paham dan tahu diri. Kali ini dia merasa sedikit bersalah. Danar hanya salah paham. Dia tak tahu jika lelaki yang mengantar Rani pulang ke rumah adalah kerabat jauhnya yang baru datang dari Malaysia. Barulah Danar meredam emosinya. Setelah meilhat Rani menangis sembari menjelaskan siapa lelaki itu. Ada gurat penyesalan di wajah Danar telah mengungki-ungkit kembali masa lalu.

"Ran, mana Riza si kecil? aku mau gendong dia. sekali lagi maaf yah sayang. aku tak bermaksud..."

"Riza ada di dalam Mas." jawab Rani dengan senyum getir. Dia sudah memiliki seribu argumen untuk diungkapkan kepada suaminya, namun ia urung.

Danar dan Rani menuju kamar mungil anak mereka yang kedua. Setelah kehadiran anak laki-laki di keluarga mereka, setidaknya mengurangi sikap kecemburuan Danar pada istrinya. Di keheningan itu, Danar tidak menyadari, di balik dinding ruangan saat mereka berdebat, Riri mendengar semua. Bentakan ayahnya kepada ibunya, juga tuduhannya yang meskipun Riri masih kecil, dia sudah memahami perkataan ayahnya. Entah untuk pertama kalinya, Riri menangis di balik dinding itu. Pertanyaan yang sering hadir dalam benaknya akhirnya terjawab juga. Kini ia sadar mengapa ayahnya jarang memperhatikan dia. Hanya Riza dan Riza. Perasaan benci pelan-pelan merasuki tubuhnya yang masih mungil. Andai saja dia bisa terlahir menjadi anak kedua, tapi tidak. Justru dia tidak menyukai angka itu. Urutan kelahiran yang membuat perhatian ayahnya telah direnggut.Angka dua yang selalu diistimewakan, menjadi nomor dua tak perlu lagi dicurigai kelahirannya, ibarat mengikuti sebuah tes, angka pertamalah yang selalu mendapat giliran, Ia benci, sangat membenci angka itu.

***

"Stop pak, trima kasih"
Gadis remaja yang bernama Riri itu menyodorkan uang sebesar lima ribu rupiah kepada supir pete-pete. Dia membenci nomor itu, tapi dia tak bisa menolak kehadiran angka dua. Dia juga tak mau menyimpan benci terlalu lama, perlahan-lahan dia belajar mencintai angka dua, yang belakangan ini angka dua berusaha menunjukkan perhatiannya ke Riri. Ibarat calon pasangan, ia mengejar-ngejar, sedikit merayu, dan jika perlu bersikukuh. Hanya pete-pete' angka dua yang bisa mengantar Riri ke tempat belajarnya yang lumayan jauh.

"Aku mungkin bisa belajar mencintai angka itu, saat dimana hanya angka itu yang selalu hadir di sekelilingku, tapi bagaimana dengan kenangan yang hadir sebagai bayangan di angka dua itu? Sebuah bayangan akan ingatan yang tak bisa  kulupakan."

----------
(22 Sept_16)

8 komentar:

  1. Halo..semoga tidak terinspirasi dari kisah si MT dan Kis yang lagi ribut dimedia ya..hehehe...

    Salam kenal dari saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mt ma Kis?? yg mana tuh kak? ada link nya? hhh maklum nggak uptodate hehe,, salam kenal balik kak mksh udh mampir :)

      Hapus
    2. MT dan kis adalah obrolan genk gosip di grup #1minggu1cerita wkkwk

      btw asik cerpennya :)

      Hapus
    3. hhhh aku baru tau kak, soalnya di 1mg 1ceria aku member baru dsna jd lum tw apa2 hehe, mksh kak :) mhon sarannya yah buat pengembangan diri

      Hapus
  2. Hai salam kenal...
    Membuatku rindu ingin menukis cerpen lagi

    Sukaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hello :) salam kenal juga:) makasih yah :)

      Hapus
  3. Jadi inspirasi buat bikin cerpen
    salam kenal kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal jg :) dtggu cerpennya :)

      Hapus

Member of Stiletto Book Club

Komunitas Blogger Makassar

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Member of Warung Blogger

Warung Blogger

Member of Blogger Perempuan

Member Hijab Blogger

Free "Care" Day

Free "Care" Day