Dia, Ayah Keduaku

Aku tak memedulikan derasnya hujan. Aku hanya ingin berlari sekencang-kencangnya. Menjauh dari rumah. Menjauh dari kenyataan, bahwa aku akan kehilangan orang yang paling kusayangi. Ayahku. Ayah memang hanya pergi untuk sementara, tapi sungguh aku benci perpisahaan ini.

***
Hari pertama menyandang status anak SMA terasa biasa-biasa saja. Aku berjalan menuju sekolah yang tak jauh dari rumah nenekku. Keceriaan itu sudah lama hilang dari diriku. Langkahku tertatih. Sejak kepergian Ayah merantau di Malaysia, aku benar-benar kehilangan sosok yang bisa menjadi teladanku.

“Nak, kamu jangan sedih. Ayah pergi bukan karena pertengkaran Ayah dengan paman, bukan Nak. Ayah murni pergi untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Lihat, sebentar lagi kamu akan lulus di SMP. Akan butuh biaya yang banyak Nak. Ayah tak ingin, kamu jadi pengangguran dan mengikuti jejak Ayah.” Ayah menatapku lekat. Senja di sore itu terasa kelam. Ayah berusaha membujukku.

Aku berjalan pelan menuju sekolah yang tak terlalu jauh dari rumah. Anehnya, ingatan saat perginya ayah ke tanah rantau tak bisa kulupakan.

“Tapi Ayah, mengapa harus pergi? Siapa yang akan mengajari aku? Membacakan surah Yasin saat malam jum’at sebelum tidur? Ayah kan tahu, aku nggak bisa berbuat apa-apa tanpa Ayah di sini.” Tanpa kusadari, air mataku mengalir. Aku memang laki-laki, tapi untuk hal ini, aku nggak bisa menahan isak tangisku di hadapannya.

“Nak, ingat, kau itu laki-laki. Jangan pernah biarkan air matamu menetes. Ingat, kita ini laki-laki. Seberat apa pun itu, air mata laki-laki adalah keringat. Kamu sudah besar nak. Jangan khawatir, kamu bisa tinggal di rumah nenek.” Ayah mengelus ubun-ubunku dengan lembut. Sorot matanya tajam. Guratan di wajahnya menandakan usianya yang semakin tua. Beberapa helai rambutnya sudah memutih. Kepergian ibu sejak tiga tahun lalu menyisakan kepedihan tersendiri bagi kami berdua.

“Tapi yah, aku…” Belum sempat aku melanjutkan omonganku, ayah memelukku erat-erat.
“Nak, sudah. Jangan berdebat dengan Ayah. Besok Ayah harus pergi. Ingat, belajar yang baik dan rajin. Ayah ingin melihat kamu sukses. Biar pamanmu tidak mencela keluarga kita lagi. Biar kamu bisa membungkam mulut mereka dengan prestasimu.” Ayah melepaskan pelukannya. Ada rasa hangat menjalar di tubuhku. Aku pasti akan merindukan ayah. Sangat.

Tak kusangka ingatan itu mengundang bulir-bulir di tepi mataku.
“Ah sial!” Gerutuku dalam hati. Sudah hampir setahun. Masih saja aku mengingat saat-saat sebelum kepergian ayah di tanah rantau.

Tanpa kusadari aku sampai di sekolah. Memasuki ruangan kelasku. Sebelum melangkah masuk kelas, seseorang memegang pundakku dari belakang. Aku menoleh.
“Eh.. Pak.. Pak Nuur.” Aku salah tingkah saat meyadari siapa yang memegang pundakku. Beliau adalah guru favoritku di sekolah. Namanya pak Nuur Syam. Belakangan ini, aku akrab dengan beliau. 

“Arul, kamu terlambat lagi masuk kelas. Untung bapak meeting tadi di ruang guru. Kamu selamat.” Pak Nuur tersenyum di hadapanku, aku tahu dia tipe guru yang humoris dan terkadang mengerjai siswanya yang terlambat, tapi justru itulah yang aku suka. Suasana di kelas tidak pernah tegang. Cara mengajarnya sangat efektif, kami nggak pernah merasa bosan saat beliau mengajar. Tapi, di saat yang sama beliau juga bisa tegas. Seperti itulah beliau mendidik kami. Nggak hanya sekedar mengajar.

Aku duduk di bangku paling depan. Alasannya simple, biar mudah mengerti penjelasan guru-guru, tentu saja ada resikonya. Kebanyakan yang duduk di depan selalu menjadi yang pertama jika ditunjuki mengerjakan atau menjawab pertanyaan setiap guru yang mengajar di kelas. Tapi, sejak mengenal pak Nuur, aku malah ketagihan duduk di depan setiap memasuki ruang kelas.

Kuperbaiki posisi dudukku sembari meraih pulpen dan buku di dalam tas. Pelajaran sudah dimulai. Pak Nuur seperti biasa mengawali pelajarannya dengan kisah inspiratif. Aku termangu setiap kali pak Nuur mengajar di dalam kelas. Senyum dan wajahnya sangat mirip dengan Ayahku.  Ingatanku kembali merambah saat pertama memasuki sekolah ini.
***
Hari pertama menjadi murid SMA biasa-biasa saja. Tiga bulan semenjak perpisahan dengan ayah menyisakan rongga rindu yang sangat mendalam. Aku menyalahkahkan pamanku sejak perginya Ayah di tanah rantau. Bagiku, Ayah pergi karena ulahnya. Aku masih ingat bagaimana paman menghina Ayah di depan rumah kami sendiri. Ayah yang tubuhnya sudah ringkih, tidak bisa berbuat apa-apa. Ayah terlalu sabar bagiku. Dan karena itu pula, ayah memilih pergi jauh dari kampungnya. Jauh dariku.

Malangnya, aku nggak bisa setegar yang Ayah kira. Aku bergabung dengan komplotan anak nakal di sekolah. Beberapa dari mereka adalah teman SMPku. Aku melampiaskan semua kekesalanku dengan brutal. Meski berstatus anak baru di SMA, namun kelakuanku sudah seperti senior. Aku lebih banyak membolos di sekolah. Dan sampai pada insiden itu yang mempertemukanku dengan pak Nuur.

Hari itu, aku meloncat keluar dari pagar sekolah. Teman sekolahku membawaku ke tempat markas di mana kami sering berkumpul. Lokasinya tak jauh dari sekolah, namun dekat dari pasar. Aku lupa bahwa hari itu akan ada razia khusus anak sekolahan yang bolos di sekolah. Tanpa kusadari, gerombolan polisi menjelajahi setiap sudut di dekat sekolah kami. Teman-teman yang menyadari itu lari terbirit-birit, sementara aku yang kebetulan masuk di dalam wc, tidak menyadarinya.

Salah seorang polisi menangkapku saat kembali duduk di warung yang kami jadikan markas berkumpul. Aku tertangkap basah dan nggak bisa mengelak karena seragam SMA yang kupakai. Aku digiring ke sekolahku. Aku tidak bisa berkata banyak. Anak-anak SMA berhamburan di luar melihatku. Aku hanya bisa menunduk tanpa melakukan perlawanan. Kepala sekolah menegurku keras. Aku memang tak berurusan dengan polisi. Mereka hanya melakukan razia bagi siswa yang bolos. Sisanya, sekolah yang akan bertanggung jawab.

Di ruangan BK, aku ditanyai banyak hal. Guru BK di sekolahku sangat galak. Aku dibentak habis-habisan. Tak tersisa lagi ruang bagiku untuk membela. Ingin rasanya kukatakan bahwa aku hanya frustasi karena masalah yang kuhadapi. Namun, aku urung. Apa pedulinya mereka dengan diriku. Dan saat dibentak itu, seseorang masuk dalam ruangan. Guru yang tadi membentakku tiba-tiba diam.
Seseorang yang masuk tadi duduk menghamipiriku. Dia menatapku lekat-lekat. Kupikir, dia juga akan memarahiku. Dia hanya tersenyum dan menoleh ke arah guru BK itu seolah membicarakan sesuatu. Aku merasa lega, karena guru BK yang dari tadi membentakku akhirnya keluar juga.

“Nak, nama kamu Arul kan? Kamu ke rumah bapak yah setelah pulang sekolah.” Dia tersenyum simpul di hadapanku. Aku menatapnya bingung, aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya. Tapi, aku yakin dari seragamnya, dia juga mengajar di sekolah ini. Tapi mengapa dia mengajakku ke rumahnya?
“Rumah bapak dimana?” Dengan ragu-ragu, aku bertanya letak rumahnya.
“Di perumahan sekolah nak, ya sudah kamu masuk kelas. Ingat, sepulang sekolah kamu ke rumah bapak.”
Hanya itu. Dia meninggalkan ruang BK. Aku kembali ke ruang kelas yang sebenarnya masih bingung dan bertanya-tanya tentang orang itu. Banyak pasang mata menatapku dengan sinis. Aku merasa bersalah. Gara-gara ulahku, aku memberikan citra tidak baik terhadap sekolah ini. 

Sepulang sekolah, aku menghampiri rumahnya. Aku masih bingung, siapa namanya. Aku yakin dia juga guru di sekolahku. Aku disambut hangat oleh dia. Aku terperangah saat pertama kali masuk di dalam rumahnya. Ruang tamu dipenuhi oleh jejeran buku yang rapi di dinding rumah dan memenuhi satu lemari besar.
“Panggil saya pak Nuur, nak. Saya guru kelas tiga. Wajar saja kalau kamu belum kenal bapak.”

Aku tediam sejenak. Aku baru menyadari sesuatu yang tidak asing sejak melihat dia, maksudku pak Nuur di ruang BK tadi. Wajah dan senyumnya mirip Ayahku hanya saja, beliau terlihat lebih muda dari Ayah. Dan ya Tuhan! Sorot matanya itu mengingatkanku pada Ayah. Aku membatin dalam hati ketika beliau memandangku.
***
“Arul! Arul! kamu menghayal?” Suara teman sebangkuku, menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya tersenyum ke arah temanku. Sekali lagi, kulihat pak Nuur lamat-lamat. Sejak hari itu, aku lebih sering ke rumah beliau. Guru yang tidak pernah kukenal sebelumnya kini sangat akrab denganku. Bukan hanya aku, di rumah beliau ada banyak puluhan siswa lainnya yang sering ke rumah beliau untuk membaca buku. Tapi, bagiku pak Nuur lebih dari seorang guru, dia Ayah kedua bagiku.

Karena nasehatnya, aku berhenti bergaul dengan anak-anak nakal di sekolahku. Akupun berhenti bolos sekolah. Perlahan tapi pasti, aku merasa termotivasi kembali. Bahkan aku bermimpi! Beliau membuatku bercita-cita, membangun mimpi. Kata pak Nuur, jangan pernah merasa berkecil hati saat kau merasa kekurangan ekonomi. Jadikan itu sebagai bahan bakarmu untuk melangkah ke depan. Kata-kata beliau mungkin hanyalah nasehat ringan, tapi tidak bagiku. Itu sangat berarti. 

Aku sering ke rumah beliau untuk membaca buku bahkan sampai menginap. Beliau memperlakukanku layaknya anak sendiri. Di sisi lain, beliau juga sangat tegas. Hal yang paling kusukai dari beliau karena sisi humorisnya dan sangat mengerti psikologi muridnya. Terutama aku. 

“Nak Arul, tolong ambil buku absensi bapak di perumahan, Bapak lupa membawanya.”
Tanpa banyak bicara, aku meninggalkan kelas. Menuju perumahan beliau yang kini sudah menjadi rumah keduaku. Tidak heran jika pak Nuur memberiku amanah untuk mengambil sesuatu yang beliau lupa di perumahan. Aku berjalan cepat menuju rumahnya sambil tersenyum. Sejenak, aku memandangi langit yang indah membiru. Aku tetap dan akan selalu merindukanmu Ayah. Dan ya Tuhan, terima kasih karena Engkau mempertemukanku dengan guru yang sangat baik. Guru yang juga seperti ayahku sendiri. 
________
picture taken by google
karya: Ainhy Edelweiss

2 komentar:

Member of Stiletto Book Club

Komunitas Blogger Makassar

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Member of Warung Blogger

Warung Blogger

Member of Blogger Perempuan

Member Hijab Blogger

Free "Care" Day

Free "Care" Day