SEKOTAK NASI

Mata perempuan muda itu berkaca-kaca. Langkahnya terhenti saat menenteng sebungkus nasi goreng di tangannya. Tak jauh dari tempat di mana ia berdiri, duduk seorang nenek dan seorang bocah kecil berbaring di pangkuan sang nenek. Nenek itu sudah tua renta, wajahnya yang keriput, matanya memelas rasa kasihan dari orang yang berlalu lalang tak acuh di depan sang nenek. Kakinya yang lumpuh, hanya mampu berjalan terseok-seok diikuti langkah kecil sang bocah pergi meninggalkan tempat itu. Sepertinya tak ada lagi yang peka di tempat itu. Tak terkecuali perempuan muda yang berbaju biru itu, ia pulang denga hati bagai disayat sembilu.

"Apa yang harus kulakukan?" Sepanjang jalan pulang, ia dihantui oleh pertanyaan itu.

***
"Guyss, gue mau ngadain kegiatan amal. Kalian harus ikut berpartsipasi! terserah mau berapa-berapa, tapi harus yah." Nada perempuan itu sangat tegas. Tak ada kesan main-main dengan idenya barusan. Beberapa teman yang sibuk dengan gadget masing-masing, terhenti.

"What? Nggak salah nih? sejak kapan loe ngadain kegiatan seperti itu. Lebih baik karaokean deh." Si gadis berbaju kardigan merah itu menghantam telak niat perempuan itu.

"Hmm.. aku sih mau yah Aida, masalahnya loe mau ngapain? ngumpulin dananya di mana, trus buat kegiatan amalnya kayak apa, dan loe mau ngasih siapa coba. Terlalu banyak orang miskin di luar sana!" Reni yang berbaring di kamar perempuan itu memberi saran, namun tidak membuat  perempuan itu mengurungkan niatnya.

Perempuan itu berfikir sejenak untuk meyakinkan teman-temannya harus menyetujui rencanya. Lalu duduk dan menatap satu persatu teman-temannya, membuat mereka berhenti memainkan gadget. Meski mereka terlihat kebingungan, perempuan itu  memiliki karisma yang bisa mengalihkan perhatian  teama-temannya, wajar saja jika dia dijuluki teman yang paling gaul dan supel.

"Begini, gue nggak peduli gimana kalian menanggapi rencana gue. Tapi, gue berharap kalian berpartisipasi. Terserah kalian mau bayar berapa. Kita harus ngadain hari sabtu. Sisa tiga hari sih memang, tapi gue berharap kalian ikut membantu.

Setelah dana terkumpul, gue sendiri yang buat makanannya. Simple kok, sedikit sayur, lauk pauk, ditambah nasi, trus di bungkus pake kotak nasi. Nah simple kan?" Aida menatap satu persatu teman-temannya. Mereka menyimak dengan seksama. Reni, ira, masih terlihat tampak tak acuh. Namun, Lani dan Yuki terlihat antusias. Lagipula nggak ada salahnya melakukan kegiatan amal sekali setahun.

"Oke Da, gue setuju-setuju aja. Tapi loe kan tau, kebanyakan kita nge-kos. Apa ia dana loe akan cukup? Paling yang menyumbang nggak banyak." Jawab Lani yang tampak ragu-ragu. Namun, diam-diam dia mengagumi niat Aida.

"Nah justru itu guys. Kalian pernah kan ngerasain kelaparan di kos. Well, bukannya sok yah, tapi seharusnya kita sadar, ngerasain pernah kelaparan. Gimana coba dengan mereka yang hidup di jalanan, tidur di bawah jalan tol. Masih mending kita kan, puya tempat tinggal dan dibantu orangtua. Kita kelaparan kan paling cuma mager doang." Aida masih antusias menjelaskan maksudnya mengadakan kegiatan amal. Semua terdiam. Reni dan Ira yang tadinya mengumpat kini terdiam. Ia tau, kata-kata Aida barusan juga mengena telak di hati mereka.

"Loe kalau udah nyinggung itu, nggak bisa ngomong apa-apa Da, yaudah gue ikut aja sama ide loe. Tapi ingat, kita harus bergerak cepat. Waktunya mepet banget. Lagian kenapa sih mesti hari sabtu?"
Yuki dengan mata sipitnya ikut juga menyuarakan pendapat.

"Oke.. oke kalian simak baik-baik yah. Gue anggap kalian sudah pada setuju. Nih rencana gue."

Kelima mahasiswa itu berembuk. Perempuan yang bernama Aida itu tak bisa lagi menunda keinginannya yang sudah lama terpendam. Dia harus menuntaskan apa yang sudah diabaikan hari itu. Hari di mana ia menjadi salah satu orang yang lalu lalang  tak memerdulikan si nenek tua yang terseok dan bocah kecil yang sudah kelaparan.

***
Senja sudah tenggelam di pelupuk mata. Harapan tentang uluran dari tangan-tangan golongan atas tak menandakan belas kasih. Matanya mulai meneteskan air mata. Dipandanginya Fly Over sebagai atap selain langit tempatnya berteduh. Dia, sang nenek hanya mampu mengelus-elus bocah kecilnya. Mungkin cucunya, mungkin juga anak temannya, atau mungkin anak pungut. Entahlah.

Hari ini, sang nenek kalah oleh kehampaan. Tak ada suara nyaring yang bisa dia jual kepada mereka yang menginginkan suara emas. Tak ada tubuh elok yang bisa dibanggakan melamar kerja. Apa yang bisa dia lakukan selain mengemis? Sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu. Jika saja menunggu kematian dalam kelaparan diperbolehkan tanpa beban, maka dia rela melakukannya. Tapi, bagaimana dengan bocah kecil ini?

Sekali lagi, sang nenek menerawang ke udara. Meraba-raba setiap kemungkinan yang bisa dilakukan. Apa daya jika kaki sudah buntung, wajah yang sudah keriput, kulit yang menghitam. Siapapun merasa jijik melihatnya. Hanya beberapa lalat yang mau mendekatinya. Apa lalat lebih baik tanpa jijik mendekati sang nenek dibanding mereka?

Sang nenek merebahkan tubuhnya di samping sang bocah. Rupanya elusan mampu membuat bocah itu tertidur. Berharap tak ada satpol atau apapun yang mengusir dia tidur di bawah jembatan.

"Nek, nek..." Suara itu terdengar berat, Menahan parau yang sebentar lagi meledak. Matanya ternyata berkhianat. Air mata segera mengucur, berkali-kalipun diseka tetap saja mengalir deras.

"Aida, loe simpen aja sekotak nasi ini di dekat nenek itu." Suara Reni membuat Aida cepat-cepat ,enghapus air matanya.

"Tapi...." Aida masih memikirkan sesuatu, menimbang apakah cukup dengan sekotak nasi? Ia sudah membagi-bagikan beberapa bungkus nasi yang sudah dikemas, tak banyak memang. Ia dan beberapa temannya menyusuri setiap jalan. Memberikan sekotak nasi bagi yang memang membutuhkan.

"Gue harus ngasih dua kotak nasi untuk nenek ini." Tanpa basa-basi Aida meletakkan dua kotak nasi di dekat sang nenek. Ada perasaan haru menggerayapi hati Aida sekaligus rasa sedih yang menyayat-nyayat hatinya. Hanya ini yang bisa dia lakukan.

"Yuk." Aida mengajak Reni bergegas, takut jika sang nenek terbangun. Itu adalah kotak bungkusan kotak nasi yang terakhir. Sebanyak 59 kotak nasi mereka bagikan. Aida bersama Reni, sementara yang lain membagikan bungkusan nasi di tempat lain. Ada yang berubah dari Reni setelah ikut membagikan kotak nasi di jalanan.

"Makasih yah Aida, maaf di awal gue paling nggak setuju dengan niat lo." Ucap Reni di atas motor dalam perjalanan pulang.

"Ah santai aja loe, nggak apa-apa. Semoga aja suatu hari kita punya rejeki berlebih. Bisa bantu mereka lagi." Tanpa Reni sadari, Aida masih mengeluarkan air mata. Bayang-bayang wajah pemulung, peluh keringat anak kecil mendorong gerobak, seorang lelaki tua yang juga lumpuh, meneriakkan kerasnya hidup melalui mata mereka.

***
Sang nenek tak menyadari jika dia tertidur. Saat terbangun, perhatiannya teralihkan oleh sekotak nasi yang tergeletak di dekatnya. Diraih bungkusan itu pelan-pelan. Betapa kagetnya dia saat melihat bungkusan itu. Dua bungkusan nasi yang terakhir kali ia dapat dua bulan lalu. Hanya makanan dari sampah sebagai penyambung hidup. Tetesan air mengalir di tepi matanya. Dengan ucap syukur, sang nenek membangunkan bocah kecilnya.

"Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk siapapun yang sudah meletakkan makanan ini."

Sembari makan, sang nenek memikirkan malaikat siapa yang sudah meletakkan makanan ini dari langit.


_________

I got this inspiration from my friend. Thanks, keep it :) 
Pic taken by google
3 November



0 komentar:

Posting Komentar

Member of Stiletto Book Club

Komunitas Blogger Makassar

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Member of Warung Blogger

Warung Blogger

Member of Blogger Perempuan

Member Hijab Blogger

Free "Care" Day

Free "Care" Day